Ragam Ekspresi Seni Rupa Generasi Z Membuka Ruang Eksplorasi Estetik

Sejarah & Budaya908 Dilihat

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Generasi Z (Gen-Z) dikenal sebagai kelompok orang yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Mereka sering disebut sebagai “penduduk asli digital”, karena tumbuh besar dengan internet dan teknologi, yang memengaruhi karakter dan nilai-nilai mereka, seperti kemampuan adaptasi dan pemikiran inovatif dalam dunia digital.

Generasi ini memiliki kemampuan adaptasi tinggi dan mampu menghasilkan pemikiran inovatif, serta menjadi motor penggerak dalam penggunaan teknologi dan berbagai sektor.

Mereka tumbuh di tengah isu seperti perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, dan pandemi COVID-19, yang membentuk nilai-nilai mereka dalam hal keberlanjutan dan kekuatan dalam menghadapi perubahan.

Perupa dari generasi inilah yang sebagian besar mengisi ruang pamer EDSU House, Yogyakarta, pada pameran karya 17 perupa bertajuk “Sebuah Tak Cukup Berbuah”, 12 September – 9 November 2025.

Saat ini ruang bermain bagi seniman muda tak mengenal batas. Peluang datang bertubi-tubi, tersebar luas dengan akses yang sangat terbuka. Hal yang lazim sebagai perupa mereka berpameran enam kali dalam setahun, nyaris tanpa jeda. Ritme yang kencang menuntut produktivitas. “Buru-buru berpindah dari satu medium ke medium lain, dari satu gagasan ke gagasan lain,” tulis Eugenia, dalam pengantar pameran ini.

Teknologi ikut mendukung dengan menawarkan kemudahan baru dengan perangkat yang makin canggih difungsikan sebagai sarana eksplorasi. Perangkat lunak pada tablet, misalnya, menyediakan pilihan warna dan kuas tanpa batas sehingga memudahkan seniman untuk membayangkan karyanya secara lebih utuh. Proyektor pun kerap dipakai untuk memindahkan
rancangan digital ke atas kanvas.

“Perkembangan serupa juga tampak dalam metode riset yang makin bergantung pada arsip dan data digital,” kata Eugenia.

Karya Gen-Z hadir sebagai jejak pergulatan dengan keseharian mereka, sehingga narasi yang muncul pun berlapis: tentang konflik identitas, jejak memori, keterhubungan dengan lingkungan, serta riuhnya modernitas.

Karya lukis Avif Ziadi (2001) misalnya, merupakan aktualisasi dari minat artistiknya untuk melibatkan seni lukis, desain, literasi, dan sejarah personal dalam mengolah narasi keseharian, khususnya dalam konteks digitalisasi lewat karya lukis berupa kerumunan figur manusia dan bentuk manekin dalam komposisi warna cerah menyala (Oh…. Diversity, 2025).

Atau karya Ilham Karim (1999) berupa citraan tiga sosok tubuh manusia dalam posisi tergeletak secara vertikal dan hanya satu sosok itu yang muncul dalam citraan yang utuh dengan komposisi warna dasar yang kontras dan menyala. Sedang citraan tubuh lainnya hanya berupa garis tebal (Hypnotized, 2025). Karya lukis Ilham mengingatkan pada gaya pop art Andy Warhol pada 1950-an.

Adapun Hudan Seltan dengan eksplorasi citraan realisnya mengolah narasi gejolak psikologis berupa alienasi, absurditas, dan pencarian tiada akhir atas makna lewat simbol kekinian (Stolen Memories; Vertical Disarray, 2025).

Isu di ruang publik diangkat Ketut Nugi (1996) yang mengulik fenomena paradoksal di Bali ketika tradisi dan modernitas berkelindan dalam kepentingan ekonomi lewat simbol struktur arsitektur khas Bali yang berisi citraan lelaki-perempuan sedang berjemur di tepi pantai (A Glimpse of Tourism, 2025).

Perupa Gen-Z dalam pameran ini juga mengeksplorasi karya instalasi berupa tempat berbaring sederhana yang di atasnya tergeletak bentuk tiga dimensi organ jantung dalam warna merah tua yang terhubung dengan selang kateter seolah menggambarkan ketika tubuh berada dalam situasi darurat (Ridho Scoot, Sudut Penentu #2, 2025).

Didin Jirot (1998) juga mengeksplorasi bentuk tiga dimensi berupa konstruksi struktur bentuk berlapis-lapis dari potongan materi aluminium dalam posisi miring seperti menuansakan sesuatu yang rentan rubuh (Actual Infinity, 2025). Karya Didin terinspirasi dari bentuk menjulang sesajen masyarakat Bali di atas kepala perempuan yang mengusungnya.

Generasi Z juga tak lepas dari narasi kritik sosial terhadap lingkungannya. Perupa muda asal Yogyakarta, Begok Oner (1998), lewat karya seni jalanan (street art) mengeksplorasi narasi tindakan Keraton Yogyakarta menggusur rumah warga yang menempel di sisi dalam dinding tembok Keraton lewat karya lukis di atas bongkahan tembok rumah warga korban penggusuran (Reconstruction 001, 2025).

Generasi Z hadir dengan teknik sederhana saat mengolah elemen artistik karya seni rupa mereka, yang diungkap dengan bahasa rupa yang juga sederhana. Semua kesederhanaan itu sesuai dengan perkembangan pengalaman emosional mereka dan sensitifitas sosial yang sejatinya sama kuat dengan generasi milenial dan generasi baby bomer yang lebih dulu hadir berkiprah di pentas seni rupa.■Raihul Fadjri