
Bandung, dialoguejakarta.com – Masih ingat Gepeng (Freddy Aris, 1950-1988), salah satu pelawak (komedian) dari kelompok Simulat yang kondang pada tahun 1980-an? Saat ini nama Gepeng dengan bentuk kepalanya yang gepeng justru dipakai perupa Generasi Z, Rafli Piu, sebagai identifikasi bentuk visual karya seni rupa pada pameran di Hybridium Art Gallery, Bandung, 5 – 10 Januari 2026.
Pada pameran bertajuk [AS] ini dua perupa muda Rafli Piu (2004) dan Sabrina Angelique (2004) mengeksplorasi karakter animasi pada karya mereka. “Pameran [AS]
menggunakan citra visual berupa bentuk-bentuk lunak dan berbagai macam objek yang kerap diasosiasikan dengan mainan yang membaluri satir dengan nuansa humoris dan absurd terhadap situasi dunia saat ini,” ujar Samuel Theo, kurator pameran ini.
Judul pameran yang tak biasa, [AS], adalah akronim dari Adult Swim, berasal dari program siaran televisi Cartoon Network yang mulai populer di Amerika Serikat pada 2003. Program ini ditayangkan pada malam hari berupa konten satir, absurd, dan eksperimental khusus untuk orang dewasa. “Seiring waktu, Adult Swim berkembang menjadi simbol budaya pop yang menegaskan bahwa kedewasaan tidak selalu identik dengan keseriusan, melainkan bisa tetap bermain-main dengan absurditas,” ujar Rafli Piu.
Dengan pendekatan baru terhadap [AS] inilah Rafli dan Sabrina yang sedang menyelesaikan studi akhir di Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengeksplorasi gagasan visual mereka. Sebagaimana bentuk kepala bintang Srimulat, Gepeng, Rafli mengolah citraan bentuk gepeng baik dalam makna dua dimensi (lukisan) maupun bentuk tiga dimensi lewat citraan figur dan elemen visual lainnya yang bercorak animasi.
Berangkat citraan bentuk fuggler (monster lucu-jelek) Rafli Piu mengeksplorasi konsep gepeng dengan bentuk kepala gepeng secara horizontal dengan tulisan di bagian bawahnya: FUGGLER: FUNNY UGLY MONSTER (Gepeng : Fuggler Box, 2025). Fuggler menjadi salah satu titik awal Rafli mengeksplorasi konsep gepeng, yang berangkat dari ketertarikannya terhadap penyederhanaan bentuk dan pergeseran makna dalam budaya visual kontemporer, lewat figur mainan yang terdistorsi dan cenderung absurd. “Karya ini merefleksikan bagaimana objek populer mengalami pergeseran fungsi dan makna ketika ditempatkan dalam konteks konsumsi yang cepat dan instan,” ujar Samuel Theo.
Dari titik inilah gagasan tentang gepeng berkembang lebih jauh, menjadi cara untuk mengkritisi bagaimana kedalaman makna, identitas, dan pengalaman kerap diratakan dalam budaya visual masa kini. “Fuggler diperlakukan bukan sekadar sebagai mainan, melainkan sebagai medium untuk membaca kecenderungan masyarakat yang mereduksi kompleksitas menjadi bentuk yang mudah dicerna.”
Rafli menampilkan cintraan bentuk figur bocil (bocah cilik) bak sedang bermain meniup permen karet, sementara di sebelahnya ada bentuk bayangan si bocil dengan kepala seperti bentuk buah apel (Gepeng : The Rest of Sonny Image, 2025). Dari citraan bentuk sosok bocil itu pula Rafli ‘menggebuk’ bentuk figur itu menjadi gepeng sehingga melebar secara horizontal (Gepeng : Sonny Angel Stickers, 2025).
Adapun Sabrina Angelique membuat bentuk animasi tiga dimensi dengan narasi psikologis berupa lapisan ihwal penampakan identitas diri ke depan publik, berupa penampakan wajah sepenuhnya terbuka, wajah kedua hanya diketahui teman dekat, dan wajah ketiga yang tidak ditunjukkan kepada
siapapun (The Layers, 2024).
Sabrina juga menggunakan bahan dakron–serat sintetis yang terbuat dari bahan polyester–untuk menghasilkan citraan tiga dimensi berupa sosok yang mendukung sosok lain di pundaknya. Karya berbau politik ini menarasikan ihwal seorang anak politisi yang memulai karier politiknya dari nol. Nama dan pengaruh keluarganya lah yang menggendongnya langsung ke puncak kekuasaan (Gendongan Bapak, 2025).
Sabrina masih mengeksplorasi narasi politik lewat sosok figur bertubuh tambun dengan dasi merah menyala menghias kemeja putihnya, berdiri di depan kursi empuk. Sementara tiga figur bertubuh kurus duduk berdesakan di satu kursi menghadap politisi tambun itu (Tayangan TV di Minggu Pagi, 2025). “Karya ini menyindir bagaimana politik dimanipulasi menjadi tontonan yang menghibur, menggunakan estetika yang identik dengan dunia anak-anak, yakni penuh warna, lucu, dan cerah. Padahal pesan di baliknya berisi kepentingan, manipulasi, dan konflik,” ujar Sabrina.
Dinamika politik kenegaraan sebagai tahta kekuasaan dan penentu kebijakan ikut berkontribusi dalam melanggengkan situasi itu. Tidak jarang eksponen politik praktis ikut mendapatkan untung dari pemanfaaatan berbagai macam bentuk industri budaya, bahkan sampai menggunakan kecerdasan buatan, untuk
mengampanyekan dan menyukseskan kepentingan politik yang telah menjadi tontonan sehari-hari.
“Situasi ini yang melatarbelakangi karya-karya Rafli Piu dan Sabrina Angelique dalam pameran ini,” ujar Samuel Theo. Mungkin pelawak Gepeng pun akan terpingkal-pingkal di alam sana melihat satir politik dua perupa Generasi Z ini.■ Raihul Fadjri

















Komentar