Lanskap Gunung Redjeki Pelukis Klowor Waldiyono

Momentum erupsi Gunung Merapi disikapi sebagai keberkahan lewat warna-warna yang riang, penuh keceriaan dan suka cita.

Sejarah & Budaya197 Dilihat

 

Birunya Merapi, 2025.

YOGYAKARTA, dialoguejakarta.com – Erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010 merupakan rangkaian letusan eksplosif terbesar sejak tahun 1872 (skala VEI 4) yang terjadi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Erupsi dimulai pada 25–26 Oktober 2010. Letusan pembukaan terjadi dengan guguran kubah lava dan awan panas (wedus gembel). Pada 4–5 November 2010 puncak erupsi besar dengan kolom abu dan awan panas yang meluncur hingga 15 km ke arah Cangkringan, Sleman.

Dampak erupsi Merapi sekitar 353 hingga 386 orang meninggal dunia, termasuk juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan. Jumlah pengungsi 300 ribu hingga 410 ribu warga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Adapun kerugian ekonomi dan kerusakan infrastruktur diperkirakan mencapai Rp 3,62 triliun hingga Rp7,3 triliun.

Dahsyatnya erupsi Gunung Merapi itu dan dampaknya di mata pelukis Klowor Waldiyono (1968) justru dilihat dari pandangan positif. “Saya merespon bencana Merapi meletus bukan berarti harus dengan cara berkarya dengan karya lukis berwarna suram, gelap, dan sangat mencekam,” ujar pelukis yang juga dikenal dengan nama Klowor Kucing ini. Tetapi dia membalik cara pandang terhadap bencana itu. “Aku visualkan dengan warna-warna yang riang, penuh keceriaan dan suka cita. Hal ini saya gambarkan untuk menumbuhkan energi-energi positif. Bukan keputusasaan.”

Klowor menjadikan momentum erupsi Gunung Merapi itu dengan menyikapinya sebagai keberkahan yang dia ekspresikan lewat pameran tunggalnya bertajuk “Gunung Redjeki” di Le Gareca Art Gallery, Yogyakarta, 3 Oktober – 1 November 2026.

Pada pameran ini Klowor memajang 11 karya lukis dengan subject matter Gunung Merapi lewat karya lukis dari sapuan kuas ekspresif yang dikuatkan dengan struktur garis. Dia mengeksplorasi lanskap gunung yang bersanding dengan aktifitas kehidupan manusia, tumbuhan, dan hewan. Inspirasi idenya ‘memotret’ lanskap dengan ekosistem yang harmonis dan dinamis.

G. Merapi, 2026.

Ada bentuk puncak gunung di tengah kanvas dalam warna merah menyala dengan lanskap pepohonan yang menutup lereng gunung hingga bagian bawah juga dengan warna dominan merah. Sementara bagian atas kanvas tertutup gugusan awan dalam bentuk melingkar seperti akibat tiupan angin yang berputar lewat torehan struktur garis dalam komposisi warna coklat dan kuning (G. Merapi, 2026). Warna merah pada lukisan Gunung Merapi ini bisa melambangkan kehangatan, kasih sayang, dan keintiman. Tapi bisa juga bermakna simbol peringatan dan kemarahan ketika Gunung Merapi erupsi.

Gunung berwarna merah juga muncul berupa citraan bentuk bagian puncak gunung berlatar gelombang awan di langit. Adapun di bagian bawah gunung ada hamparan lanskap pepohonan dalam polesan warna biru yang terbelah aliran air terjun buatan bertingkat. Di tengah lanskap itu tampak sejumlah citraan bentuk rumah joglo (Grojogan Watu Purbo, 2026).

Grojogan Watu Purbo (batu purba) merupakan destinasi wisata alam berupa air terjun buatan bertingkat yang terletak di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Bangunrejo, Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Grojogan Watu Purbo bukan air terjun alami, melainkan bangunan sabo dam (bendungan penahan lahar) di aliran Sungai Krasak dan Sungai Bebeng yang mulai dibangun sejak tahun 1975 untuk mengantisipasi erupsi Gunung Merapi.

Gunung Redjeki, 2026.

Suasana syahdu muncul saat matahari akan tenggelam di ufuk timur di balik gunung yang menjulang dengan komposisi warna merah, kuning dan putih. Cahaya mahahari yang mulai redup itu membuat sosok gunung menjadi gelap di hadapan lanskap flora dalam warna biru berhiaskan jejeran bentuk bunga dalam warna merah (Cakrawala Senja, 2026).

Klowor juga ‘memotret’ Gunung Merapi dari sisi timur, Klaten, Jawa Tengah, persisnya dari Desa Karanglo. Nama Karanglo berasal dari gabungan dua kata ‘karang’ dan ‘elo’. Kata karang merujuk pada batuan sisa atau endapan material letusan dahsyat Gunung Merapi pada masa lampau sekitar tahun 1910. Adapun kata ‘elo’ merujuk pada pohon elo, pohon keras yang banyak tumbuh di sekitar aliran sungai.

Karanglo juga tercatat dalam zonasi wilayah dari kawasan rawan bencana (KRB) di sekitar lereng Gunung Merapi. Kini di Karanglo ada komunitas wisata Karanglo Squad yang mengadakan kegiatan petualangan Lava Jeep untuk menjelajahi kawasan lereng dan sisa erupsi Gunung Merapi.

Klowor membuat karya seri untuk ‘memotret’ Gunung Merapi dalam warna hitam dengan asap membara keluar dari puncaknya, sementara di kaki gunung ini ada hamparan kemuning padi dengan dua memedi sawah untuk mengusir burung (Merapi Karanglo #1, 2025).

Pada karya seri ini Klowor mengeksplorasi warna yang tidak biasa, dengan memakai warna dominan ungu untuk objek utama berupa citraan bentuk gunung dengan asap dari puncak gunung memenuhi langit ungu (Merapi Karanglo #4, 2025). Warna ungu merupakan perpaduan warna merah –melambangkan energi, gairah, dan kekuatan– dengan warna biru yang melambangkan ketenangan, stabilitas, dan logika. Perpaduan ini menciptakan karakteristik unik yang menggabungkan emosi dan rasionalitas.

Dalam kajian psikologi warna, warna ungu merupakan hasil perpaduan antara warna merah (melambangkan energi, gairah, dan kekuatan) serta warna biru (melambangkan ketenangan, stabilitas, dan logika). Perpaduan ini menciptakan karakteristik unik yang menggabungkan emosi dan rasionalitas yang merupakan keseimbangan emosi sebagai cerminan harmoni antara gairah yang berapi-api dan ketenangan yang rasional.

Lukisan lanskap gunung bukan sekadar meniru kenyataan, melainkan untuk menggugah perasaan, ingatan, dan perenungan terhadap potensi warna pada alam. Klowor Waldiyono mengerahkan segenap kreativitasnya dengan merangkum fenomena indahnya alam, kehidupan manusia, dan hewan, menjadi sebuah karya seni yang kaya warna, menginspirasi sekaligus menenteramkan pikiran dan jiwa penikmatnya. “Lukisan pemandangan gunung lanskapnya sarat dengan energi kreatif yang memuat kejadian menawan, di mana setiap bidang menyimpan kisah indah dan penuh makna,” ujar pengamat seni rupa Alex Lutfhi.

Menurut dosen seni rupa ISI Yogyakarta ini, konsep warna Klowor Waldiyono bukan sekadar menghias kisah atau fragmen tentang lanskap gunung. Kerja kreatifnya sudah membangun struktur fisik, kedalaman, dan bobot emosional. “Baginya bentuk dan warna tidak terpisahkan, sepenuhnya disusun sesuai dengan nada warna, karena ia yakin bahwa warna menciptakan kesan kedalaman, dapat menyejukan pikiran dan menghidupkan pengalaman estetik, mengubah cara kita merasakan dan mempersepsikan ketika berinteraksi dengan lingkungan alam,” kata Alex.■ Raihul Fadjri

Komentar