Perupa Pamerkan Karya Seni Rupa Cover Buku

Vincensius Dwimawan, seorang pelukis yang menyediakan waktunya membuat disain visual cover buku sembari tetap membuat karya lukis.

 

Salah satu karya cover buku Vincensius Dwimawan

YOGYAKARTA, dialoguejakarta.com – Buku bukanlah sekadar cetakan berlembar-lembar halaman kertas yang berisi berbagai macam teks tertulis, tapi juga mengandung muatan elemen visual yang tujuannya menarik perhatian konsumen.

Peran inilah yang dilakukan Vincensius Dwimawan (1962), seorang pelukis yang menyediakan waktunya membuat disain visual cover buku sembari membuat lukisan. Karya cover buku pelukis yang memperoleh pendidikan seni rupa di Sekolah Tinggi Seni Rupa (STSRI) ASRI, Yogyakarta, ini mencapai 50 karya yang dipajang pada pameran bertajuk “Rupa Buku Rupa Kata” di Sangkring Art Space, Yogyakarta, yang sudah berlangsung sejak 18 Oktober 2026.

Pameran ini untuk menandai 15 tahun komunitas Sastra Bulan Purnama yang menerbitkan buku dengan gambar sampul yang dibuat Vincensius Dwimawan. Karya seni rupa cover buku karya Sius, panggilan akrab Vincensius Dwimawan, yang sudah dipilih, dicetak di atas kanvas, dan dipamerkan di ruang gallery. “Seni rupa cover buku tidak hanya di ruang perpustakaan pribadi, melainkan berpindah ke ruang gallery. Ini artinya, selain memiliki bukunya, publik bisa menikmati karya seni rupa cover,” ujar Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama.

Cover buku karya Vincensius Dwimawan.

Ada potret wajah dalam warna monokrom hitam putih berupa ekspresi wajah marah dengan mata mendelik, sementara satu tangan seperti sedang berusaha agar mulut yang berupa bentuk resleting terbuka, satu tangan lain berusaha membuka tangkai retsleting agar tetap terbuka (Antologi Puisi Negeri Tanpa Suara). Buku bersampul warna kuning ini memuat kumpulan puisi bertema politik Indonesia yang dihimpun dari hasil kurasi penyair digagas serta dikurasi oleh komunitas Sastra Bulan Purnama. Buku ini akan diterbitkan oleh Sibuku Yogyakarta.

Ada juga buku dengan gambar sampul berupa sosok perempuan lansia berupa drawing dalam warna monokrom hitam putih. Perempuan itu dalam gestur tertawa sembari perhatiannya tertuju pada perangkat gadget yang dia pegang yang terhubung dengan headphone menutup kedua telinga. Sementara di atas kepalanya berupa tumpukan kabel koneksi internet, keyboard komputer dan sejumlah logo media sosial.

Buku ini merupakan kumpulan esai berjudul “Aku Terkoneksi, Maka Aku Ada” yang berisi tulisan-tulisan mengenai pengalaman, adaptasi, dan sudut pandang para lanjut usia (lansia) dalam berinteraksi dengan teknologi serta dunia digital. Buku dengan warna sampul merah jambu ini diterbitkan oleh Tonggak Pustaka pada Mei 2026.

Vincensius aktif membuat gambar yang disebutnya vignet dan dipublikasikan di media cetak. “Tahun 1980-an ia banyak membuat vignet,” ujar Ons Untoro. Selain itu, ia membuat disain grafis untuk poster publikasi pertunjukan teater. Setelah tidak aktif menjalankan kegiatan keduanya, Sius bekerja disatu media di Jakarta, majalah DEWI, Femina Group dan selama 28 tahun dia bertanggung jawab sebagai Art Director dan Koordinator Produksi pada majalah tersebut. “Sius terbiasa membuat disain cover majalah dan buku.”

Ketika ia sering bolak-balik Jakarta – Yogya, dan sering mampir di acara Sastra Bulan Purnama, Sius membuat cover buku yang diterbitkan Sastra Bulan Purnama dan Tonggak Pustaka.
Setelah pensiun ia kembali melukis. Disela-sela asyiknya melukis, Sius selalu meluangkan waktu untuk membuat cover buku. “Sebetulnya membuat cover buku nyaris sama dengan membuat cover majalah,” ujar Sius. Dia membuat karya khusus untuk cover buku, bukan diambil dari lukisan yang sudah ada. “Ada yang saya buat dengan cat akrilik, ada yang drawing, dan foto yang kemudian saya olah di Photoshoop baru dilayout di InDesign.”

Biasanya sebelum Ons Untoro membuat buku, Sius selalu minta ToR-nya dulu dan tema apa yang akan diangkat. “Kalau puisi saya akan minta beberapa puisi-puisi yang sesuai dengan tema. Kalau esai juga sama, saya akan baca dulu, hingga muncul ide dan akan saya visualkan dalam bentuk gambar dan typografi dengan memilih font yang cocok. Biasanya saya buat dua alternatif desain, tinggal teman-teman memilih salah satunya,” ujar Sius.

Dalam membuat cover buku, Sius tidak memerlukan waktu lama, apalagi tersedia narasi dan judul buku, dengan segera ia mengembangkan imajinasinya. Dalam waktu dua hingga tiga hari rancangan cover buku seringkali sudah selesai. “Saya melihat, ia menikmati membuat lukisan untuk cover buku,” kata Ons.

Bagi Sius, khusus untuk membuat cover buku kepuasannya ketika buku dicetak diperbanyak. “Ada kebanggaan tersendiri, karena dikoleksi banyak orang dan disimpan dalam perpustakaan, hingga orang kalau mau membaca pasti melihat dulu covernya,” ujar Vincensius Dwimawan.■ Raihul Fadjri