
Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Berkarya seni rupa lewat media seni serat (fiber art) satu hal yang terasa istimewa, karena tidak banyak perupa yang melakukannya. Seni serat adalah karya seni rupa yang memakai bahan dasar serat alami atau sintetis, seperti benang, wol, kain, atau tali. Salah satu perupa yang menggunakan media seni serat adalah Yudrika Adilla (1998), perupa asal Bandung yang memajang karya seni serat lewat pameran bertajuk Unfamiliar Familiar di Versus Project DGTMB, Yogyakarta, 29 Juli – 30 Agustus 2026.
Karya pada pameran ini berangkat dari narasi tentang memori tentang kehidupan sehari-hari di masa lalu yang dibangun dengan menghadirkan bentuk-bentuk objek personal yang masih melekat di dalam ingatan.
Yudrika berangkat dari gagasan bahwa memori tidak pernah benar-benar hilang. “Memori mungkin meredup, meluruh, atau tersimpan begitu saja di sudut diri, tapi selalu ada pemicu yang bisa membawanya kembali,” ujar Yudrika. Ada aroma tertentu, cahaya yang jatuh di ruang, suara yang samar, atau benda yang akrab. “Dari situlah karya saya dalam pameran ini lahir sebagai pemantik yang membuka kembali lapisan memori yang sudah lama terlupakan.”
Praktik artistik Yudrika mengeksplorasi tema identitas, ingatan, relasi antara manusia dan benda. Dia fokus pada media tekstil dan soft sculpture dengan setiap karya menjadi ruang pencarian atas pengalaman personal maupun refleksi tubuh terhadap emosi.
Ada karya instalasi tiga dimensi dari bahan polyester fabric berupa lanskap alam sederhana berbentuk pohon menjulang di atas struktur berwarna coklat dengan batang pohon dalam warna hitam dan daun berwarna putih. Wujud taktil dari material rajut dan kain betekstur ini menghadirkan kembali keakraban ruang terbuka yang luas, mentah, sekaligus penuh kejutan (Tumbuh di Sela-sela, 2026).
Pada karya lain Yudrika ingin memindahkan memori tentang ruang domestik ke dalam bentuk cair yang imajiner, di mana batas antara benda sehari-hari dan ingatan tubuh menjadi larut dan kabur. Dia mereduksi wujud fisik objek menjadi gestur tangan serta dekapan yang samar, menghadirkan keintiman, kenyamanan, sekaligus kerentanan yang akrab. Karya ini mengeksplorasi abstraksi bentuk mirip wajah dengan tekstur permukaan mirip karpet Palembang dalam warna merah dan bentuk topi dalam warna hijau, sementara bentuk tangan menjulur dalam gestur memeluk (Ruang Tengah #1, 2026).
Memori di ruang publik juga dieksplorasi dengan menyandingkan bentuk persegi dari bahan semen mentah yang bertekstur kasar dengan bentuk imajinatif berupa sosok hewan berkaki empat dalam warna putih dan hijau dengan permukaan bertekstur lembut hasil rajutan (Tembok#2, 2026).
Yudrika juga mengulik memorinya tentang sisir garpu, jenis sisir dengan gigi yang jarang dan panjang untuk merapikan rambut ikal atau keriting yang kusut tanpa membuat rambut rontok. Dia menyusun lima bentuk sisir garpu di atas struktur semen bertekstur kasar memanjang secara vertikal (Koleksi Sisir Bapak #1, 2026).
Semua citraan benda dibentuk dari ingatan yang tidak memiliki ukuran warna, dan tekstur yang sama persis sebagaimana ingatan yang tidak pernah menyimpan secara detail. Dari proses itu muncul dua rasa yang hadir bersamaan secara akrab (familiar) sekaligus asing (unfamiliar). Familiar karena objek-objek itu berupa hewan, tangan, sisir, kasur, pohon, adalah bagian dari keseharian yang begitu dekat. Kefamiliaran karena begitu dibentuk ulang lewat ingatan yang sudah berlubang dan berubah dengan wujud yang tidak pernah benar-benar sama dengan aslinya. Ketegangan antara yang dikenali dan yang terasa asing inilah yang menjadi inti pengalaman yang dihadirkan pameran ini. Ingatan selalu berada di ambang antara yang kira-kira kita ingat dan yang sebenarnya telah berubah tanpa kita sadari.■ Raihul Fadjri