
Ubud-Bali, dialoguejakarta.com – Perupa Kokoh Yulistio Wahono menggunakan citraan hewan sebagai metafora perilaku manusia lewat pameran bertajuk ‘Circle of Humans, Animals, and Univerce‘, di ruang pamer Dalam Seniman Ubud, Bali,
6 Juni – 6 Juli 2026.
Bung Tiok, panggilan akrab Kokoh Yulistio Wahono, menghadirkan dunia fauna dan flora dengan sentuhan keindahan elemen dekoratif dan nuansa surealistik yang penuh warna di atas media kanvas. Pada pameran ini Bung Tiok memasukkan elemen kemanusiaan pada karyanya, baik secara visual maupun dalam narasi pada karya lukisnya yang terbaru.
Ada sosok figur dengan citraan tubuh berupa susunan besi yang mengingatkan pada bentuk robot, berada di tengah hamparan lanskap penuh warna. Sementara di cakrawala ada sekumpulan bentuk ikan hias seperti menari dalam kebahagiaan (Lead Me From Darkness to The Light, 2026). Karya ini seolah menarasikan perpaduan antara alam dan teknologi.
Figur manusia juga muncul lewat narasi yang menjadikan hewan sebagai korban. Perang tidak hanya menyisakan korban jiwa, material maupun psikis, tetapi perang juga berimbas pada hewan yang merupakan bagian hidup manusia. “Hewan peliharaan yang hidupnya sudah bergantung kepada manusia juga menjadi korban keganasan perang,” ujar Bung Tiok.
Hewan dalam karya lukisnya selain menjadi metafora tentang korban kebrutalan perang. Hewan juga bagian dari realitas di dalam pertempuran antar manusia. “Banyak hewan terlantar sakit dan tak terawat akibat dari perang yang terjadi.”
Bung Tiok menampilkan narasi kebrutalan genocida Zionis Israel di Jalur Gaza berupa sosok figur pengenakan pakaian berwarna putih berhiaskan bendera Palestina di dada dengan citraan kebulan api membara di bagian kepalanya. Figur ini diapit dua bentuk kucing yang salah satunya dengan ekspresi wajah ketakutan, sementara seekor kucing lain dipegang figur itu bak berusaha menyelamatkan kucing-kucing itu dari gempuran Zionis Israel yang tidak cuma menghancurkan lanskap hidup penduduk di Gaza, juga telah membunuh 73.016 jiwa–sebagian besar anak-anak dan perempuan–dengan lebih dari 170 ribu orang lainnya mengalami luka-luka (Cats and War, 2025). “Hewan dalam karya saya tentang perang, selain menjadi metafora, hewan juga menjadi cerita realitas di dalam perang,” ujar Bung Tiok.
Naluri bertarung muncul lewat citraan dua kepala ayam jago dengan latar belakang mesin perang tank, sementara dua ekor ikan menghias kegelapan di angkasa (Win or Lose, 2025).
Perang yang membunuh kemanusiaan untuk meraih kekuasaan pun muncul lewat narasi keagamaan dalam warna monokrom. “Ajaran dan tata cara dalam berperang ada pada ayat ayat agama,” kata Bung Tiok. Narasi ini muncul lewat citraan bentuk buku tebal bertuliskan “The Book of God’s Warfare” dengan tumpukan buku tebal yang salah satunya bertuliskan REVOLUSI dengan bentuk ikan hias dan bercak darah. Kitab revolusi ini diapit citraan bentuk tengkorak dengan seekor burung bertengger di atasnya dan sosok figur memakai jas lengkap dengan wajah tertutup. Sementara di bagian belakang ada mesin perang –panser– siap meledakkan siapapun di depannya (The Book of God’s Warfare, 2026).
Bak menutup narasi pameran ini, Bung Tiok membawa penonton pameran pada alam filsafat dengan mengutip pernyataan filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, pada judul sub-buku dari karya autobiografi terakhirnya, yakni Ecce Homo: How One Becomes What One Is (bagaimana seseorang menjadi dirinya sendiri). Ada kantong plastik transparan berisi bentuk buku bertuliskan ‘Nietzsche, Eccehomo’ dengan burung bertengger di ujung pegangan kantong plastik, di tengah keindahan lanskap alam penuh warna dengan dua ekor ikan terbang di cakrawala (Eccehomo, 2025).
Menurut kurator pameran ini, Zen Jitsu A.K.A Boel Vadag, penonton diajak untuk tidak hanya melihat, tapi juga merasakan, merenung, dan mungkin bertransformasi. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, karya lukis Bung Tiok menawarkan
kemungkinan lain: sebuah cara untuk kembali terhubung dengan tubuh, dengan alam, dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita. “Di antara warna-warna yang bergetar dan bentuk-bentuk yang bergerak, kita dapat menemukan kembali sesuatu yang telah lama hilang: sebuah kesadaran bahwa kita tidak pernah benar-benar terpisah dari semesta,” ujar Zen Jitsu.■ Raihul Fadjri






















Komentar