Perupa Hadirkan Protes Perundungan Anak di Ruang Publik

Perupa Digie Sigit menampilkan karya seni rupa berisi narasi perlawanan terhadap praktek perundungan terhadap anak.

 

Karya seni rupa Digie Sigit (Sayangi Teman, 2026). Foto: Raihul Fadjri/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Pengendera sepeda motor dan mobil yang memadati pertigaan Jalan Sultan Agung dan Jalan Gajah Mada, Yogyakarta, tersita perhatiannya pada baliho yang tidak biasa. Baliho berukuran 8 x 4 meter itu tidak berisi iklan berbagai produk bisnis sebagaimana biasanya, tapi potret sosok bocah dalam posisi berdiri memeluk bola dalam warna monokrom. Di bagian bawahnya ada teks tertulis: “aku cuma mau maen …. (kenapa kamu bully aku?)”.

Poster berjudul “Sayangi Teman” ini adalah karya Digie Sigit (1977), seorang perupa yang juga dikenal sebagai vokalis band Teknoshit. Di tengah kota yang penuh sesak Digie Sigit mencoba merebut ruang untuk bersuara tentang hal yang sering dilupakan, yaitu tentang anak-anak, rasa aman dan empati. “Karya di baliho itu berbicara tentang situasi anak-anak saat ini yang masih menghadapi bullying, kekerasan, dan krisis ruang untuk tumbuh secara utuh,” ujar ayah satu anak ini.

Bak pameran seni rupa laiknya, pembukaan ‘pameran’ karya tunggal ini dirayakan di halaman bangunan heritage bekas bioskop Permata yang terletak persis di depan karya Digie Sigit di pertigaan jalan itu, Senin sore, 25 Mei 2026.

Pameran ini menampilkan karya berbasis teknik stensil khas Digie Sigit, dengan menyuguhkan visual monokromatik sesosok anak kecil berambut sebahu, bertelanjang kaki, yang sedang mendekap erat sebuah bola sepak berwarna kuning menyala. Sorot matanya yang tajam sekaligus rapuh menatap langsung ke arah warga kota yang melintas di jalanan. Di bawah figur bocah itu tertera teks dalam warna merah menyala yang berbunyi: “aku cuma mau maen.. (kenapa kamu bully aku?)”. Satu karya seni rupa yang bertindak sebagai alarm darurat atas dua krisis krusial yang terjadi saat ini, komersialisasi ruang bermain dan maraknya perundungan (bullying) terhadap anak-anak.

Padahal upaya menghapus perundungan terhadap anak sudah dilakukan di ruang publik. Di dinding tembok sekolah muncul teks peringatan agar tidak melakukan perundungan terhadap anak oleh orang dewasa maupun sesama anak. Tayangan iklan di televisi menggambarkan beratnya beban bagi anak yang mengalami perundungan sehingga hanya terduduk di depan pagar rumahnya karena takut akan berangkat ke sekolah ataupun kembali masuk ke rumah orang tuanya.

Karya ini lahir dari keresahan mendalam ketika Digie Sigit melihat anak-anak hari ini yang kehilangan ruang publik yang aman dan inklusif untuk tumbuh utuh. Lahan kosong dan lapangan kampung yang dahulu menjadi pusat kegembiraan anak-anak, kini terus digusur dan beralih fungsi menjadi ruko, hotel, maupun area parkir. “Anak-anak kian terasing dan terpaksa mengadopsi ruang-ruang sisa yang berbahaya, seperti bermain bola di atas aspal jalanan sempit atau di sela-sela kendaraan yang penuh polusi,” katanya.

Tidak hanya menyoroti krisis fisik tata ruang, kalimat penggugat dalam karya Digie Sigit juga membuka realitas kelam epidemi perundungan (bullying) di dunia anak-anak. Dia menegaskan bahwa lingkaran setan kekerasan ini tidak terjadi di ruang hampa, melainkan merupakan replikasi dari perilaku dunia orang dewasa sendiri. “Pola asuh yang represif di rumah, sistem pendidikan yang menuntut kepatuhan buta di sekolah, hingga kebebalan etis panggung politik yang dipertontonkan di media, menjadi produsen utama yang diserap dan dipraktikkan kembali oleh anak-anak terhadap teman sebaya mereka,” kata Sigit, panggilan akrab Digie Sigit.

Menurut Sigit, narasi ‘sayangi teman’ sebagai pernyataan sikap agar semua orang peduli terhadap esensi tumbuh bersama dan berbagi hidup demi masa depan. “Tentu saja anak -anak seringkali diam, tapi di setiap sorot mata mereka jelas meminta tanggung jawab kita sebagai orang dewasa,” katanya.

Sigit sengaja memilih ruang jalanan agar pesan ini bisa hadir lebih dekat dan terjangkau perhatian publik selama sebulan durasi pameran ini. “Mari kita perbesar solidaritas untuk melindungi dan menjamin utuhnya pertumbuhan generasi mendatang.”■ Raihul Fadjri

Komentar