
Yoyakarta, dialoguejakarta.com – Narasi visual karya seni rupa tidak terbatas. Bahkan mahluk tak kasatmata yang salah satunya dikenal dengan sebutan hantu pun dieksplorasi para perupa sebagaimana yang muncul pada pameran bertajuk ‘Sekutu Hantu’ di Ace House – Langgeng Art Space, Yogyakarta,
6 Maret – 24 April.
Sebanyak lima perupa dari berbagai usia mengolah berbagai bentuk sosok hantu lewat karya dua dimensi dengan berbagai corak. Sekutu Para Hantu ini adalah Nasirun, Noviadi Angkasapura, Nyoman Darmawan, Kuncir Satya Viku, dan Nalta. “Sekutu Para Hantu dalam pameran ini mengambil inspirasi dari kisah-kisah para leluhur yang kemudian mereka sampaikan kembali dengan campuran modernitas yang mereka cerap di masa mereka bertumbuh,” ujar Bagus Purwoadi, pengamat seni rupa.
Hantu dalam legenda Indonesia berakar dari cerita rakyat (folklor) yang diwariskan turun-temurun, seringkali mencerminkan ketakutan sosial, kisah tragis, atau unsur mistis daerah. Sosok ikonik meliputi Kuntilanak (Pontianak), Wewe Gombel, Pocong, Kuyang (Kalimantan), Leak (Bali), serta legenda urban seperti Si Manis Jembatan Ancol.
Pada pameran ini usia perupa memberi perbedaan yang signifikan dalam ekspresi mereka. Nasirun (1965), perupa paling senior dari generasi Baby Boomer yang juga disebut Generasi X dengan karya paling banyak (30 karya) dan bertarikh paling lama (2015). Nasirun yang juga dikenal sebagai pelukis tajir ini mengeksplorasi elemen budaya tradisi lewat karya dua dimensi dengan menggunakan media kayu yang dia ukir (blawong) berupa citraan figur wayang dan diimbuhi dengan polesan cat (Wayang Blawong, 2021). Selain itu Nasirun juga menghadirkan 25 karya di atas media kayu dengan teknik yang sama berupa citraan bentuk mahluk hantu lewat karya seri bertajuk Stempel bertarikh 2015.

Ada bentuk empat persegi yang berisi deretan citraan bentuk tengkorak dengan bentuk tulang bersilang di bawahnya dalam warna hitam dan merah marun. Sementara di belakangnya ada figur dengan wajah menyeringai, mata melotot, dan jari tangan dan kaki berkuku panjang (Stempel #2, 2015).
Pada karya lain Nasirun meminjam logo bisnis farmasi yang dikenal sebagai Bowl of Hygieia (Mangkuk Hygieia), berupa citraan bentuk stempel berbentuk ular yang melilit cawan dengan tulisan: Pabrik Parmasi Soembing. Di bagian atas ada seekor ular dalam posisi melingkar dengan mulut menyemburkan api. Karya yang dipoles dalam warna merah marun dan coklat ini seolah menyindir ‘hantu’ yang melekat pada industri farmasi (Stempel#272, 2015).
Dari generasi yang sedikit lebih muda, Noviadi Angkasapura (1979), lahir karya lukis yang masih menyisakan elemen tradisi dalam komposisi warna cerah berupa berbagai bentuk ornamen tradisional pada potret wajah manusia dengan tiga bola mata yang membuat bulu kuduk berdiri (Untitled, 2026).
Alih-alih menebar rasa takut terhadap sosok hantu, Nyoman Darmawan (1984) malah menghadirkan citraa figur lelaki dan perempuan yang sedang bersetubuh dengan posisi dari belakang di bawah temaram sinar bulan dalam suasana monokromatis (Kusentuh Diriku, 2026). Karya ini seolah mewacanakan persetubuhan sebagai metafora ‘hantu seksual’.
Adapun Kuncir Satya Viku (1990) menyambungkan deretan bentuk persegi seperti frame hasil jepretan (rekaman) kamera yang berisi berbagai citraan figur animasi dan berbagai bentuk imajiner yang menyeramkan. Karya seri ini seolah menggambarkan sesuatu yang berada dalam frame yang terpisah tapi berada dalam satu narasi tentang hantu yang menebar rasa takut (Braincell Remains, 2026).
Bak menutup kisah hantu, Nalta (1991) menghadirkan citraan bentuk kuburan yang menutup kepala dua sosok figur di bawahnya sedang menyembelih seekor ayam dengan darah menggucur dari leher ayam (Menyembelih Ayam, 2026).
Hantu bergentayangan dalam kehidupan sehari-hari justru merupakan manusia dengan berbagai profesi yang membuat rakyat ketakutan atas polah mereka.■ Raihul Fadjri


















Komentar