
Yogyakarta, dialoguejaarta.com – Sejarah Islam di Tanah Jawa tak lepas dari Masjid Demak yang didirikan oleh Raden Patah, raja pertama Kesultanan Demak, bersama dengan Wali Songo (sembilan wali) pada abad ke-15 (sekitar tahun 1466-1479 Masehi).
Yang menarik, arsitektur Masjid Agung Demak yang terletak di Kota Demak, Jawa Tengah, ini menggambarkan proses akulturasi budaya antara Islam dan budaya lokal Jawa (Hindu-Buddha) pada masa Kerajaan Majapahit. Perpaduan ini terlihat dari atap bangunan masjid tumpang tiga (tajug) yang mirip pura Hindu, penggunaan empat saka guru (tiang utama) gaya Jawa, serta pola ukiran Majapahit, menciptakan bangunan ibadah Islam yang harmonis dengan tradisi agama yang lebih dulu masuk ke Nusantara. Akulturasi ini menunjukkan pendekatan dakwah Wali Songo yang akomodatif terhadap budaya lokal.
Bentuk Masjid Demak yang kini menjadi arsitektur masjid khas Jawa hingga saat ini muncul dalam pameran seni rupa karya Tri Julianto, bertajuk Membangun Rumah di Utara Pesisir, di 14 Februari – 15 Maret 2026. Tri lewat karya lukisnya dalam warna monokrom — seolah menarasikan potret masa silam — menampilkan citraan bentuk atap Masjid Demak berada di tengah lanskap lingkungan pesisir pantai, berupa jejeran pepohonan yang dipenuhi figur-figur berbentuk animasi mengenakan kopiah dan sarung. Ada figur yang berada di atas perahu, ada yang sedang memainkan wayang, citraan bentuk ikan, hingga buaya muara (bajul) yang sedang memangsa hewan berkaki empat (Membuka Anugerah di Gelagah Wangi, 2026).
“Raden Patah setelah berguru pada Sunan Ampel, membuka hutan dengan doa, kesabaran, dan kesepakatan batin yang menjadi pedukuhan hingga akhirnya menjadi pusat kerajaan sekaligus pusat penyebaran agama Islam oleh Sembilan Wali,” ujar Tri Julianto yang lahir di Demak pada 1993.
Sebelum menjadi Kota Wali, Demak dulu merupakan hutan belantara dengan hamparan rawa-rawa. Orang menyebutnya hutan Gelagah Wangi, karena banyak tumbuh rumput gelagah (rumput liar) yang wangi aromanya. Kini Demak telah berubah. Banyak rumah yang tenggelam akibat rob (banjir air laut) yang menuntut warga di kawasan pesisir harus merenovasi ulang fondasi rumah dibuat lebih tinggi agar ketika rob datang air laut tidak masuk ke dalam rumah. Tri Julianto memaparkan situasi ini lewat deretan citraan bentuk rumah dengan tiang penyangga dilingkari citraan bentuk pelampung seolah membentengi dari terjangan ombak dan buaya muara (Membangun Rumah di Tengah Bajul, 2025). “Hampir setiap tahun rumah di pesisir, mengalami penurunan bangunan atau tenggelam bersama tingginya rob,” kata Tri Julianto.
Kehadiran buaya muara menjadi salah satu ancaman bagi penduduk pesisir Demak. Dua ekor buaya bak sedang mengganas di tengah permukiman penduduk pesisir dan perahu nelayan (Boneka Dongeng di Utara Pesisir, 2025). “Mitos Bajul di utara pesisir yang memakan hewan ternak, namun dibiarkan dengan alasan sedekah penghuni sungai. Masyarakat sudah pasrah hingga terbiasa dengan keadaan,” kata Tri Julianto.
Warga pesisir Demak menghadapi berbagai kesulitan hidup, tapi tetap mereka jalani sembari berdoa agar tidak terjadi petaka saat nelayan pergi melaut dengan melakukan tradisi menggelar upacara melarung kepala kerbau. “Tradisi ini sangat unik karena pesisir sebagai barometer penyiaran agama Islam, tapi disisi lain ada tradisi yang menggunakan kepala kerbau sebagai bagian dari upacara larung,” ujar Tri. Satu realitas budaya bahari yang tetap berlangsung di tengah tradisi Hindu-Budha dan tradisi Islam di Demak.■ Raihul Fadjri