
Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Pengunjung disambut suasana temaram saat memasuki ruang pamer Jogja Gallery, Yogyakarta. Setelah berjalan beberapa langkah, pengunjung dihadapkan dengan dua struktur tembok dalam posisi menyiku. Tembok yang mencitrakan susunan batu bata itu berisi dua lukisan yang menggambarkan suasana ruang operasi medis di rumah sakit. Tembok sebelah kanan menampilkan empat tenaga medis dengan kepala berbalut topi dan masker menutup mulut, kelihatan seperti sedang menangani proses operasi terhadap pasien di atas tempat tidur dalam suasana temaram. Tidak nampak visualisasi operasi medis yang dilakukan secara spesifik. Sementara tembok sebelah kiri juga menampilkan citraan suasana di ruang operasi yang lebih tetang, tapi juga tidak menunjukkan secara spesifik tindakan medis yang sedang dilakukan. Secara visual perbedaan yang menonjol pada dua lukisan ini hanyalah terpaan cahaya di dalam ruang operasi. Hal yang menyatukan keduanya adalah adegan yang mengesankan situasi darurat meski tidak menunjukkan gestur yang spesifik namun seperti mendorong harapan akan terjadi keadaan yang lebih baik.

Suasana ini digambarkan secara impresif oleh perupa R Wisnu D lewat pameran bertajuk ‘Salire’ di Jogja Gallery, Yogyalarta, 9 Februari – 5 Maret 2026. Pameran ini menjadi menarik, karena pengunjung digiring untuk fokus pada karya tunggal Wisnu. Alih-alih memajang deretan karya lukis di dinding ruang pamer, Wisnu malah membuat sendiri dindingnya dengan dua karya lukis yang menyatu dengan dinding. Di depan dua karya lukis yang melekat di dinding itu ada konstruksi bangunan yang belum utuh, seolah masih dalam proses penyelesaian.
“Pameran ini berangkat dari pemikiran saya tentang equilibrium. Dalam pengalaman sehari-hari, ingatan tidak pernah hadir secara utuh; ia muncul dalam potongan-potongan. Karya saya hadir sebagai ruang visual bagi memori yang mengalami undo dan redo, menemukan keseimbangannya sendiri dalam ketidaksempurnaan,” ujar Wisnu.

Dia menjelaskan, judul pameran ini, Salire, frasa dari bahasa Latin yang berarti melompat, adalah metafora bagi ingatan yang tidak pernah linier. Bangunan-bangunan yang terfragmentasi, bangku yang tidak sepenuhnya utuh, dan ruang yang terasa tenggelam menjadi metafora bahwa tidak ada yang statis dalam ingatan. “Memori selalu bergerak, berirama, dan melompat—menemukan keseimbangannya sendiri dalam ketidaksempurnaan, dimana kita memposisikan diri sebagai satuan dalam lompatan ini adalah penilaian person secara random.”
Lukisan hadir sebagai ruang visual bagi memori yang mengalami undo dan redo, menandai bagaimana ingatan terus berubah, dipilih, dan disusun ulang.
“Seluruh karya dalam Salire dirangkai sebagai satu instalasi karena memori itu sendiri tidak pernah berdiri sendiri,” ujar Wisnu.
Kurator pameran ini, Sudjud Dartanto, mengurai pernyataan Wisnu tentang karyanya lewat teks kuratorial. Sudjud menjelaskan, di tengah percepatan kehidupan yang menuntut manusia terus bergerak tanpa jeda sehingga mengakibatkan krisis refleksi, Wisnu menawarkan sebuah pemberhentian radikal melalui pameran ini. “Pameran ini hadir sebagai respons artistik terhadap fenomena memori yang kian terfragmentasi di era banjir informasi,” ujar Sudjud.
Dia menegaskan, bahwa “Salire” menyuguhkan format pameran tunggal yang tak biasa. Selain Wisnu menampilkan lukisan bertema medis, ia juga merangkainya bersama narasi prosa dan eksperimen audio menjadi sebuah kesatuan instalasi multimedia yang utuh. “Wisnu adalah representasi dari generasi yang lahir dari budaya media yang saling bersilangan, sehingga pendekatannya menawarkan kejutan presentasi yang unik,” katanya.
Dalam proses kekaryaannya, Wisnu menggunakan pendekatan dalam perangkat lunak yang dikenal dengan istilah Undo (batalkan) dan Redo (ulangi). Dua tindakan itu sebagai upaya untuk mengelola perubahan, sebuah representasi teknis dari dinamika manusia yang terus merevisi masa lalunya sebelum melangkah ke depan.
Sudjud menjelaskan, pada karya lukis pertama ada sekelompok tenaga medis yang digambarkan dalam balutan seragam biru-hijau steril. Mereka berkerumun, menciptakan sebuah massa figuratif yang tegang. Fokusnya bukan pada wajah—yang tertutup masker—melainkan pada gestur tangan yang sedang melakukan tindakan bedah. Cahaya jatuh secara tajam pada bagian masker dan bahu, menciptakan efek dramatis yang mencekam. Latar belakang lukisan ini adalah sebuah kejutan tekstual. Alih-alih ruang kosong, Wisnu mengisinya dengan guratan teks, skrip, dan catatan medis yang tumpang tindih (Undo, 2026). “Ini menciptakan kesan ‘kebisingan visual’ di balik kesunyian prosedur medis yang dingin,” ujar Sudjud.
Pada karya kedua Wisnu membawa penonton lebih dekat pada instrumentasi medis. Ada tabung oksigen dan mesin anestesi di bagian bawah, dengan selang-selang berwarna merah dan biru yang mencolok (Redo, 2026). “Secara teknis, Wisnu memanfaatkan nalar desainnya untuk menyusun komposisi yang sangat teratur namun tampak ‘cacat’ secara sengaja melalui teknik Undo &
Redo,” kata Sudjud.
Sementara pada teks tulis tangan yang tampak adalah lapis pemaknaan yang mengajak kita untuk terhubung dengan dimensi bahasa lingual. Teks itu sengaja tak terbaca jelas, teks itu ingin sampai dengan cara puitiknya. Penggunaan warna primer pada selang medis di tengah dominasi warna sekunder hijau toska menciptakan distraksi visual yang memaksa mata berhenti pada detail yang menyakitkan. “Barangkali teks di latar belakang adalah bahasa dan catatan yang mencoba mendefinisikan rasa sakit. Namun di balik teks itu, lukisan tubuh yang terfragmentasi seolah mewakili trauma murni yang tak akan pernah bisa sepenuhnya dijelaskan oleh kata-kata,” ujar Sudjud.
Dengan menampilkan elemen visual yang relatif jelas dan terbuka untuk diberi makna oleh penonton, pameran ini menarik dari aspek eksplorasi kebentukan, tapi dihadirkan dengan narasi yang rumit untuk dipahami. ■ Raihul Fadjri

















Komentar