Perupa Eksplorasi Media Kertas Lewat Beragam Tehnik

Kertas tidak sekadar media tempat menuangkan ekspresi artistik, tapi lebih dari itu menjadi fungsi kebentukan.

Sejarah & Budaya329 Dilihat

Tangerang, dialoguejakarta.com Pameran seni rupa bersama biasanya disatukan dengan tema atau narasi pameran yang mengikat semua peserta pameran. Tapi pameran bertajuk ‘Jakarta Papers’ yang berlangsung di Artserpong Gallery, Tangerang, Banten, 5 – 8 Februari 2026, ini justru menjadikan media kertas sebagai penyatu 12 peserta.

Pameran ini menjadi menarik, selain menggunakan berbagai tehnik, dari tehnik drawing, corak karya seni rupa, pengolahan materi kertas menjadi karya seni rupa, hingga eksplorasi tehnik media campuran.

Karya Sandroseni misalnya, berupa karya drawing menghadirkan citraan figur manusia berkepala pohon dan lilin menyala di atasnya bak tubuh memikul beban batin akibat kegelisahan, tapi masih menyimpan sisa harapan meski kian menipis. Elemen-elemen kayu, burung, dan cahaya lilin membangun dialog antara ketahanan tubuh dan kerentanan pikiran (Ruang Tanpa Atap, 2026) “Karya ini merekam ketegangan antara keputusasaan dan harapan, serta mempertanyakan makna bertahan hidup di tengah kesendirian dan keterbatasan,” ujar Sandroseni.

Karya lukis di Artserpong Gallery. Foto: dokumentasi Artserpong Gallery/ dialoguejakarta.com

Ada juga karya lukis hiperealis Anggar Prasetyo (Memory, 2026), berupa citraan enam bentuk kotak persegi dalam sapuan cat akrilik warna hijau toska. Pada masing-masing bentuk bentuk ada citraan bentuk ikan hias, kunci, boneka pinokio, simbol silang dalam warna merah dan tulisan: memory.

Imajinasi sureal dieksplorasi Mahendra Pampam lewat tujuh karya lukis, sebagai representasi tak terhingga makhluk di alam semesta. Kuasa pemikiran menjadikan satu makhluk yang lebih bisa berfikir dengan bijakasana, dan dengan otomatis semesta menyeimbangkan dirinya (Opralya Qarga, 2025-2026). “Semesta punya keseimbangannya sendiri. Mari berpesta dalam kebijaksanaan,” kata Mahendra.

Yang menarik kertas tidak sekadar media tapi lebih dari itu menjadi fungsi kebentukan pada karya Jatti Adji berupa bentuk yang mengesankan citraan bentuk tiga dimensi wajah mirip hewan kucing dengan empat mata dalam tatapan menyala (Under Pleasure #1-2, 2026). “Karya ini merefleksikan ironi kehidupan ketika manusia hidup di bawah tekanan untuk merasa bahagia, seolah kenikmatan dalam pencapaian menjadi kewajiban baru. Di mana kesenangan menjadi topeng di balik tekanan, kecemasan, dan keterasingan,” ujar Jatti Adji.

Adapun Tennesser Caroline (Save Me, 2026) mengkombinasikan teknik bordir untuk membuat citraan bentuk kepala harimau menghias kepala figur boneka di atas kertas dengan tulisan dari rajutan di bajunya: SAVE ME.

Kreativitas yang menarik juga ditunjukkan Npaaw lewat empat karyanya dengan menggunakan bahan lakban kertas (masking tape) untuk menghasilkan citraan bentuk kotak-kotak hasil susunan garis tebal secara horizontal dan vertikal yang menutup secara transparan lukisan lanskap berupa hamparan sawah dengan cat akrilik di atas kertas. Yang terlihat bukanlah pemandangan, melainkan sisa-sisa memori yang telah difilter oleh waktu, lapisan, dan proses (Hide and Memory#1, 2026).  “Karya ini mengajak penikmat untuk tidak mencari kejelasan gambar, tetapi merasakan ketegangan antara apa yang tampak dan apa yang disembunyikan,” kata Npaaw.

Kertas pada pameran ini tidak berhenti hanya sebagai media untuk menuangkan gagasan visual hanya dengan satu tehnik. Kreativitas seniman membuka peluang untuk mengimbuhinya dengan berbagai tehnik lain.■ Raihul Fadjri

Komentar