
Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Puluhan penjual jamu perempuan akan menggelar parade arak-arakan Komunitas Bakul Jamu Jogja berkolaborasi dengan Wayang Milenium Wae. Acara yang melibatkan sekitar 50 bakul jamu di Daerah Istimewa Yogyakarta ini semula akan digelar pada Februari 2026, tapi kemudian diputuskan akan digelar pada 21 April 2026 “Sekalian memperingati Hari Kartini,” ujar Ki Mujar Sangkerta, koordinator dan konseptor yang menggarap arak-arakan dan performance art parade ini, Minggu 25 Januari 2026.
Ki Mujar Sangkerta yang dikenal lewat karya Wayang Milenium Wae ini merancang arak-arakan para bakul jamu secara detil dengan membuat sketsa rencana arak-arakan itu. Rencananya,
Parade arak-arakan Komunitas Bakul Jamu Jogja ini akan bergerak dari sisi utara kawasan Malioboro menuju ke arah selatan sembari mengusung spanduk bertuliskan slogan: JAMU JOGJA untuk DUNIA. “Ada peserta yang memberikan jamu secara gratis kepada para penonton disepanjang jalan Malioboro,” kata Ki Mujar.
Arak-arakan dilakukan selain dengan berjalan kaki, ada juga penjual jamu yang naik sepeda, becak, naik andong dan dimeriahkan dengan lantunan musik dari atas motor roda tiga TOSA, sembari mengusung 20 hingga 30 Wayang Milenium Wae.
Di kawasan Titik Nol Kilometer arak-arakan berhenti untuk menggelar seni performance, kemudian arak-arakan dilanjutkan bergerak ke arah timur dan berakhir di Taman Pintar, di sebelah Beteng Vredeburg.
Komunitas bakul jamu di Yogyakarta sangat terorganisir sebagai salah satu pusat tradisi jamu gendong di Indonesia. Beberapa komunitas dan sentra bakul jamu yang terkenal antara lain:
Desa Wisata Jamu Kiringan, Kabupaten Bantul adalah sentra jamu gendong terbesar di Yogyakarta, di mana mayoritas warganya berprofesi sebagai pembuat dan penjual jamu secara turun-temurun sejak tahun 1950-an.
Ada juga Paguyuban Jamu Gendong Bima Sejahtera di Sleman. Komunitas ini menaungi penjual jamu tradisional yang kini banyak berinovasi menggunakan motor untuk berkeliling. Adapun Paguyuban Jamu Gendong Kartini fokus pada inovasi dan kemajuan bersama para bakul jamu. Ada juga Perajin Jamu Gendong Seruni Putih yang berperan aktif dalam menggerakkan ekonomi perdesaan melalui produk jamu. Atau Komunitas Ibu Jamu EMPU, sebagai wadah bagi pelaku usaha jamu gendong yang mendapat pendampingan dari BPOM untuk meningkatkan kualitas dan keamanan produk.
Saat ini, banyak penjual jamu dalam komunitas tersebut telah beralih dari berjalan kaki menjadi berkeliling menggunakan sepeda atau motor, serta memproduksi jamu instan bubuk agar lebih tahan lama dan mudah dipasarkan ke luar kota. “Perempuan penjual jamu gendong sudah bisa menyekolahkan anak mereka sampai Sarjana S1, S2, S3, bahkan ada anaknya yang sudah menjadi profesor,” kata Ki Mujar Sangkerta.■ Raihul Fadjri