
Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Bagi pelukis, unsur warna merupakan salah satu elemen pokok saat mengeksplorasi struktur rupa di atas kanvas. Adalah pelukis Klowor Waldiyono yang mengolah elemen warna dalam struktur rupa yang ketat lewat karya lukisnya pada pameran bertajuk Warna Klowor di Masra Art Gallery, Yogyakarta, 1 – 31 Januari 2026.
Dalam karya lukisnya, komposisi warna cerah dan gelap dengan torehan struktur garis yang mengisi elemen kebentukan menjadi bahasa utama yang merepresentasikan kehidupan di alam. “Warna cerah yang mendominasi karya bukan sekadar permainan estetika, tapi juga membawa makna mendalam tentang semangat, hidup dan keterhubungan antara manusia dan semesta,” ujar Klowor.
Klowor mengolah warna sebagai simbol vitalitas alam dalam menampilkan citraan lanskap untuk menggugah kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
Dengan goresan kuas ekspresif yang diisi dengan struktur garis yang menghadirkan elemen dekoratif, Klowor menampilkan visualisasi alam serta objek yang dinamis, dimana setiap sapuan artistik dan komposisi warna mencerminkan energi yang terus bergerak dalam siklus kehidupan.
Warna cerah yang dia tuangkan dalam karya menjadi metafora bagi harapan, keseimbangan, dan harmoni antara manusia dan lingkungan. Ada bentuk gunung yang dihiasi bentuk gulungan awan berupa susunan garis-garis menggulung di puncaknya. Sementara di lereng gunung penuh dengan beragam jenis tumbuhan dalam komposisi warna hijau, kuning, dan coklat dengan bentuk dedaunan berupa struktur garis-garis pendek yang berada di antara bentuk rumah joglo, rumah khas tradisional Jawa (Energi Pagi, 2022).
Pada karya lain, komposisi warna cerah menghilang, digantikan sapuan kuas dalam kegelapan warna monokrom coklat dan abu-abu berupa citraan bentuk gunung yang mengerucut, sementara di puncaknya bergelung-gelung bak asap hitam di antara semburan warna merah dan kuning, sebagai gambaran saat gunung sedang meletus menyemburkan lava berwarna merah dan kuning menyala (Vulcano Series, 2019).
Selain Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah yang kerap menyemburkan lava, Klowor juga mengeksplorasi narasi wisata pada karya lukisnya. Dia menampilkan lanskap pepohonan dengan citraan bentuk rumah tradisional joglo yang berujung dengan citraan bentuk Candi Borobudur yang menarik perhatian wisatawan. Di bagian bawah kanvas Klowor juga menghadirkan sosok kucing dalam warna gelap di lanskap pariwisata ini, seolah menegaskan semua itu berawal dari seekor kucing (Tanah Nusantara, 2025).
Kehadiran sosok kucing itu seperti mengenang kembali masa awal karir Klowor sebagai pelukis, lewat pameran tunggalnya yang pertama pada 1995 dengan mengeksplorasi citraan bentuk dan perilaku kucing di atas kanvas. Sejak itu Klowor dikenal dengan nama Klowor Kucing.
Pada pameran ini pun Klowor menyertakan sejumlah karya lukis dengan subjeck matter berbentuk kucing. Ada sosok kucing yang dibangun dari goresan sederhana dalam warna monokrom (Pemimpi, 2022). Ada juga dua kucing dengan penuh energi seperti sedang bersenggama (Hasrat, 2022).
Sosok kucing muncul dalam karya lukis Klowor ketika dia masih kuliah seni rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Setiap mahasiswa mesti mempunyai kekhasan atas lukisan yang dibuat. Klowor pun memilih kucing, karena punya kenangan sedih nan dalam soal kucing piaraannya mati diracun orang. Selain itu, bagi Klowor, kucing mempunyai karakter mirip manusia: manja, penuh birahi, suka berganti pasangan, tak setia, sosok pengelana, dan suka mencari perhatian. Klowor pun pada karya lukisnya menghidupkan kucing sebagaimana perilaku manusia.■ Raihul Fadjri

















Komentar