Karya Seni Keramik Sebagai Media Ekspresi Berbagai Narasi

Fenomena viral dalam isu politik, ekologi, gaya hidup selebritas, dan kejadian populer di ruang publik muncul lewat karya instalasi.

Sejarah & Budaya167 Dilihat

 

Sejumlah karya Argya Dyaksa. Foto: dokumentasi Orbita Dago/ dialoguejakarta.com.

Bandung, dialoguejakarta.com – Heboh tudingan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo tidak cuma muncul lewat pemberitaan di media televisi dan media sosial, tapi juga menerobos ruang pameran seni rupa lewat karya Argya Dhyaksa, pada pameran bertajuk Rage Against The Muchsin, di ruang pamer Orbital Dago, Bandung, 13 – 25 Januari 2026.

Pada salah satu karyanya, Argya Dhyaksa (1991) menggunakan lembaran tempe goreng yang disusun menjadi bentuk kotak terbuka yang di bagian dalamnya diletakkan selembar gulungan foto copy ijazah sarjana kehutanan dengan logo Universitas Gadjah Mada. Karya ini seolah menarasikan ijazah sarjana Joko Widodo digoreng dalam perdebatan di ruang publik. “Ia (Argya Dhyaksa) menanggapi fenomena
viral—politik, ekologi, gaya hidup selebritas, dan kejadian populer lainnya —yang beredar di Twitter/X, Instagram, atau TikTok, dengan kecerdasan dan kelincahan secepat usapan dan guliran jari di layar, perangkat seluler” ujar pengamat seni rupa, Ibrahim Soetomo, dalam ulasannya.

Yang menarik, karya kotak tempe goreng dan ijazah itu lahir dari kreativitas Argya yang merupakan sarjana seni kriya dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada pameran yang merupakan materi karya untuk program magister yang sedang dia jalani di ITB ini, Argya menampilkan karya keramik dalam ukuran kecil dalam berbagai citraan bentuk. Salah satunya berupa bentuk patung macan putih di Kediri, Jawa Timur, yang viral di media sosial sejak Desember 2025. Berbagai bentuk karya keramik yang berukuran mungil dijejerkan di sepanjang sudut dinding dan lantai ruang pameran.

Ada juga keramik dalam warna putih berbentuk gentong berukuran kecil berhiaskan simbol barcode yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam transaksi bisnis sehari-hari, dari bisnis berskala besar hingga praktek dagang di warung-warung pinggir jalan.

“Karya keramik Argya Dhyaksa menghadirkan tanda-tanda yang tampak tak berhubungan, berparodi, untuk menghilangkan batas antara keseriusan dan ketidakseriusan,” kata Ibrahim Soetomo.

Argya menjadikan ketidaksempurnaan sebagai ciri khas karya keramiknya berupa citraan bentuk mahluk-mahluk yang terkesan aneh. Ia menggabungkan berbagai macam karakter imajinatif yang mengingatkan pada penggambaran bentuk identitas baru tokoh-tokoh tokusatsu (genre fiksi animasi Jepang) atau figur animasi semacam Mecha Super Sentai atau Dragon
Ball Z, di antara banyak tokoh lain. Wujud keramiknya cenderung berbentuk kartunis, serta dihadirkan dalam bentuk yang terkesan main-main, dan lebih mengandalkan spontanitas ketimbang hasil perencanaan ketat. “Argya berupaya menjauhi diri dari imaji kepakaran dalam dunia keramik,” ujar Ibrahim Soetomo.

Argya membuat keramik berukuran kecil yang difungsikan sebagai komponen instalasi untuk memenuhi kebiasaannya mengisi ruang atau mendekorasi karyanya sebagai penanda eksplorasi di ranah instalasi.

Judul pameran Rage Against the Muchsin (RATMuchsin), plesetan nama band musik rock Rage Against The Machine asal Amerika Serikat, tanpa maksud konseptual mendalam selain bermain dengan gaya penuturan dalam bahasa Inggris dan Indonesia, dia menghadirkan eksplorasi berbagai bahan yang sudah ada (brikolase) berupa karya keramik dalam bentuk marble run, berupa konstruksi jalur permainan kelereng yang digulirkan dari bagian yang lebih tinggi ke bagian lebih rendah. “Karya ini menjadi metafora bagi loncatan ide dalam proses kreatif saya,” ujar Argya.

Marble run, atau struktur rolling ball sculpture, adalah konstruksi jalur permainan yang dirakit untuk bola kecil atau kelereng agar dapat melaju dari awal hingga akhir tanpa hambatan. Dia juga menggunakan benda temuan (found object). Misalnya, Argya membalikkan posisi pelindung kabel menjadi jalur laju kelerengnya, atau menjadikan sepasang sumpit sebagai jembatan.

Jalur kelereng itu disusun di atas tumpukan penyangga konstruksi dan pilar. Di sepanjang jalur rolling ball itulah Argya meletakkan berbagai bentuk karya keramik yang berfungsi sebagai komponen instalasi untuk memenuhi kebiasaan mengisi ruang atau mendekorasi karyanya. Karya instalasi yang berisi jejeran karya keramik ini dilengkapi dengan jejeran karya keramik di sudut dinding dan lantai ruang pameran untuk memberi variasi jarak pandangan antara mata penonton dengan karyanya.

“Karya instalasi ini sebuah pemetaan konsep dari proses saya berkarya,” ujar Argya.■ Raihul Fadjri

Adv Banner

Komentar