
Jakarta, dialoguejakarta.com – Di tengah hiruk pikuk perkembangan teknologi dan peradaban manusia yang menyeret perubahan semua aspek kehidupan, sembilan perupa diminta menghadirkan narasi spiritualitas pada karya mereka oleh tim kuratorial Bentara Budaya, Jakarta. Kepada para perupa, kurator menyodorkan pertanyaan: Seperti apa seniman menangkap dan mengolah fenomena laku spiritual pada masa kini? Apakah kehidupan modern masih menyisakan peluang itu? Kalau ada peluang apakah ia semakin surut atau justru subur, di tengah kemajuan yang begitu cepat dengan faktor disrupsi, apalagi dipicu oleh teknologi digital? Kemana kearifan lama, apakah tumbuh kearifan baru?
Jawaban dari pertanyaan itu muncul pada pameran bertajuk “Spiritualitas Urban, Mencari Hening dalam Gemuruh” di ruang pamer Bentara Budaya Art Gallery, Jakarta, 10 Desember 2025 – 30 Januari 2026.
Sebagai pembanding, pameran ini juga memajang 21 lukisan kaca yang dinilai mengandung ungkapan dan kesaksian tentang berbagai olah spiritual pada masa lalu. “Dari para seniman diharapkan paparan elemen spiritualitas yang lebih segar dan relevan dengan kehidupan masa kini,” ujar kurator pameran ini, Efix Mulyadi dan Frans Sartono.
Hasilnya, para perupa menggunakan beragam tehnik dan medium yang mewakili pandangan masyarakat urban. Mereka mengambil jarak dengan aura pedesaan dan kultur agraris dengan menyerap nafas kehidupan yang lebih cepat, gegap gempita, hiruk pikuk dan bising.
Simbol kemewahan tampak pada karya lukis berupa citraan mobil mewah Bugatti, karya Subandi Gianto (1958). Pada latar tampak samar dalam warna hitam tipis memenuhi bidang lukisan, bahkan melumuri badan mobil berupa figur wayang beber dan adegan kecamuk peperangan, termasuk di dalamnya tokoh pasangan Bancak-Doyok. Nilai-nilai lama tetap hadir di tengah zaman yang terus bergerak (The Alcemy of Balance).
Barlin Srikaton (1969) menghadirkan mitologi tradisional tentang figur yang dipercaya dapat mendatangkan kekayaan dengan mudah dan instan, asal memberi imbalan lewat sosok Buto Ijo yang dihadirkan dalam sosok bewarna pink (Buto Ijo Warna Pink). Karya lukis ini sebagai gambaran imaginer tentang kehidupan masyarakat, terutama generasi sekarang yang serba cepat, instan dan enak.
Gunawan Bonaventura dalam karya grafis dengan tehnik cukil kayu (Reality of Life) menampilkan citraan barisan orang sedang bergerak dipacu dan terpacu untuk mengikuti irama hidup, sehingga masa lalu muncul tidak lagi dalam hitungan tahun atau bulan melainkan dalam hitungan detik. Adapun Diah Yulianti (1973) lewat goresan kuas ekspresif dengan komposisi warna cerah langsung menghadirkan atmosfir yang terasa keramat. Lingkungan masa kecilnya di Kalimantan mengarahkan pada kepekaan daya spiritual yang mempengaruhi karyanya lewat kehadiran daya cekam (Perjalanan Batin).
Kaum urban yang setiap hari dari pagi hingga malam berkutat bekerja memenuhi kebutuhan hidup, sehingga banyak terjadi degradasi dalam memenuhi daya spiritualnya. Pelukis Vincensius Dwimawan (1962) menghadapkan dua entitas yang berjarak lewat citraan sejumlah figur yang tampak bak dalam suasana galau dalam relung waktu kekinian dengan latar belakang aura spiritualitas berupa citraan figur di dinding candi dan sosok seperti biksu duduk melayang dalam warna latar monokrom (Degradasi Spiritual).
Dengan aura yang berbeda pelukis realis Hari Budiono menampilkan citraan bentuk patung kepala sang Budha berselimut api yang menyala, sebagai ungkapan merefleksi adab dengan cara menempuh jalan religi (Kalabendu series #2: The Path of Religion – Reflection on Manners).
Dalam karya para perupa pada pameran ini kehidupan spiritual menemukan auranya lewat berbagai ekspresi di tengah perubahan yang terus berlangsung dalam hitungan detik.■ Raihul Fadjri

















Komentar