
Jember, dialoguejakarta.com – Ketika saat ini setiap orang menjadi fotografer lewat fitur yang tersedia pada perangkat telpon seluler, para fotografer sejati mencoba mengkuhkan kemampuannya mengolah citraan justru tanpa menggunakan perangkat fotografi. Bahkan dalam seni rupa kontemporer, fotografi adalah salah satu teknik yang dieksplorasi perupa untuk menghasilkan karya yang menepis batas antara karya fotografi dengan karya seni rupa konvensional. Hal inilah yang dilakukan oleh Edwin Roseno lewat pameran bertajuk A Place to Return di Studio Serakit, Jember, Jawa Timur, 4 – 17 Januari 2026.
Pada pameran ini Edwin menampilkan karya-karya dari tahun 2007 hingga 2023. “Melalui pendekatan fotografi konseptual, pameran ini melihat kepulangan bukan sebagai kembali ke tempat yang sama, melainkan sebagai proses yang terus bergerak dan berubah,” ujar Edwin.
Edwin Roseno (1979) dikenal sebagai perupa yang konsisten mengembangkan praktik fotografi lewat beragam teknik dan metode produksi. Dalam beberapa tahun terakhir, dia menaruh perhatian khusus pada teknik cetak lama sebagai medan eksplorasi baru, menghadirkan fotogram dan lumen print sebagai strategi artistik sekaligus sikap estetik.
Teknik fotografi tradisional ini tidak semata dihadirkan sebagai nostalgia atas hilangnya aura fotografi analog, melainkan sebagai upaya menghidupkan kembali relasi fisik, waktu, dan unsur kebetulan dalam proses penciptaan citraan.
Fotogram –dalam prakteknya juga disebut Lumen Print— adalah teknik fotografi tanpa kamera (fotogram) yang memanfaatkan sinar matahari dan kertas foto peka cahaya menghasilkan bayangan negatif objek pada latar belakang gelap untuk menciptakan gambar ethereal (gambar terasa sangat halus). Dalam prakteknya tehnik ini acap
memakai objek organik seperti bunga atau daun untuk membentuk siluet, menghasilkan cetakan unik berwarna ungu, biru, atau coklat yang bisa permanen atau terus berubah seiring waktu.
Prosesnya melibatkan penempatan objek di atas kertas foto, menjepitnya dalam bingkai kontak, lalu mengeksposnya di bawah sinar matahari selama berjam-jam, sebelum dicuci atau difiksasi untuk stabilitas.
Praktek fotografi inilah yang dipakai Edwin untuk menghasilkan karya fotografinya. Hasilnya potret wajah yang dibangun dari citraan berbagai bentuk peralatan teknik dari besi– tang, martil, obeng–dengan warna latar hitam (Potret Diri sebagai Manray, 2023). Ada juga citraan bentuk peralatan pertukangan seperti berbagai bentuk dan ukuran gergaji dalam citraan warna monokrom yang kontras dan menyala (Raw Power Series, 2018).
Bentuk-bentuk peralatan itu tidak direpresentasikan secara realis, melainkan hadir sebagai bayangan, jejak, dan residu visual. “Tekanan cahaya, serta pertemuan antara gelap dan terang membangun kontras yang kuat antara sesuatu yang kita kenal secara intim dan sesuatu yang tiba-tiba terasa asing,” ujar Edwin.
Bentuk peralatan teknik itu juga muncul pada citraan potret wajah perempuan yang dikelilingi juga dengan beberapa citraan peralatan teknik (Left Over Images Project, 2022).
Edwin juga mengeksplorasi narasi lingkungan berupa hubungan antara manusia, alam, dan sistem ekonomi global lewat produk konsumsi massal. Dia memakai limbah kemasan berupa botol, kaleng, dan wadah plastik bekas sebagai media tanaman, lalu disusun menjadi objek fotografi sebagai metafora tentang ironi visual antara alam dan produk industri (Green Hypermarket, 2012).
“Pendekatan ini menciptakan ketegangan antara yang alami dan yang artifisial, sekaligus menyingkap bagaimana citra hijau kerap digunakan sebagai strategi pemasaran dalam sistem
konsumsi modern,” katanya.
Rasa pedih mencuat dari sejumlah citraan bentuk burung yang biasanya menyenangkan para kolektor burung dengan bentuk dan suara kicauannya, sosok burung itu tergeletak tak berdaya di atas tebaran bunga yang biasa ditaburkan di atas pemakaman (Kematian Para Pelantun, 2017).
“Melalui A Palace to Return, karya Edwin mengundang penonton untuk berada dalam ketidakselesaian di mana makna tidak disegel, dan hubungan antara diri, ruang dan waktu terus bergerak,” ujar Natalius Yudha Sutrisna, kurator pameran ini.■ Raihul Fadjri
















Komentar