Perupa Muda Eksplorasi Ragam Narasi dan Citraan Bentuk Wayang

Satu pameran seni rupa sebagai pernyataan sikap generasi muda untuk menjaga nyala seni tradisi agar tidak padam.

Sejarah & Budaya551 Dilihat

 

Karya seni rupa pada pameran Tak Openane. Foto: Dokumentasi Kembang Jati Arthouse/ dialoguejakarta.com.

 

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Ketika seni rupa kontemporer sudah larut dalam pentas seni rupa saat ini, masih ada sejumlah perupa yang berekspresi dalam lanskap seni rupa pewayangan baik lewat media lukis kaca maupun media lukis kanvas, meski jumlahnya tidak banyak. Sebut saja pelukis senior Subandi Giyanto yang menggabungkan tradisi dan pengalaman pribadinya dalam menatah wayang yang juga dia tuangkan lewat karya lukis.

Dengan arahan Subandi Giyanto pula semangat pelestarian budaya di kalangan generasi muda perupa yang merupakan siswa Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta membuat proyek seni rupa. Hasilnya dipajang pada pameran di Kembang Jati Arthouse, Yogyakarta, 5 – 11 Januari 2026.

Di tengah derasnya arus zaman yang bergerak cepat dan cenderung melupakan nilai-nilai budaya, seni tradisi kerap berdiri rapuh, terancam ditinggalkan, dilupakan, bahkan dianggap usang. “Namun bagi kami, seni tradisional justru adalah denyut kehidupan yang harus dijaga agar tetap bernyawa, tumbuh, dan menemukan bentuk barunya tanpa kehilangan jati diri,” ujar Rahman Budi Wijanarka, salah satu peserta pameran.

Dari kesadaran itulah lahir pameran bertajuk “Tak Openane”, sebuah ikrar yang berarti: akulah yang akan merawatnya. “Judul ini menjadi pernyataan sikap generasi muda untuk menjaga nyala seni tradisi agar tidak padam, memeluk warisan masa lalu, dan melangkah ke masa depan dengan kesadaran budaya,” kata Rahman.

Melalui lukisan dan instalasi, mereka menghadirkan perjumpaan antara tradisi dan tafsir baru, antara ingatan dan harapan. “Pameran ini bukan sekadar ruang pajang karya, melainkan ruang perenungan bahwa seni tradisional bukan sesuatu yang ditinggalkan oleh zaman, melainkan sesuatu yang menunggu untuk dijaga, dirawat, dan dilanjutkan.”

Sebanyak 30 karya lukis pada pameran ini menampilkan karakter figur yang terkenal dalam dunia pewayangan yang dibingkai dengan pendekatan kekinian. Ihsan Nur Rahman mengeksplorasi lingkungan yang asri berupa situs candi dan tepi sungai berupa lanskap kehijauan pepohonan sebagai tempat interaksi antar sosok wayang (Laku Tapa Pandu, 2025; Aji Pameling, 2025).

Adapun Rasya Ilmy Muhalla mengeksplorasi narasi empat figur wayang yang dikenal dengan polah yang lucu yakni Semar, Petruk, Gareng dan Bagong seperti sedang menikmati permainan sabung ayam (Sedulur Papat, 2025). Rasya juga mengeksplorasi citraan tunggal sosok Kumbokarno yang dikerubuti figur-figur kecil di sekujur tubuhnya (Kumbokarno Gugur, 2025).
Kevin Anjak juga mengeksplorasi karakter tunggal wayang berupa sosok Petruk bak sedang menari (Pethruk, 2026). Adapun Zaim Albar Ramadhan menampilkan dua karakter wayang seperti sedang asyik berdialog (Wuku Bala, 2025).

Sementara Mitzie Fatihah menampilkan sosok Semar dan Petruk sedang menikmati pemandangan lanskap persawahan di area pegunungan (Semar Petruk, 2025). Mitzie Fatihah juga mengeksplorasi dunia pewayangan lewat citraan ukiran dinding situs candi lewat sapuan warna monokrom yang kuat (Rama dan Pasukan Wanara, 2025; Relief Candi, 2026).

Selain mengeksplorasi media kanvas, peserta pameran juga memakai teknik tinta cina di atas media kertas, sebagaimana yang dilakukan Rahman Budi Wijanarka berupa adegan pertempuran (Njemparing Buta, 2025).

Yang juga menarik, dari lima peserta pameran yang mengeksplorasi narasi dan elemen visual dunia perwayangan dengan latar belakang budaya Jawa, hanya satu peserta yang memiliki identitas ke-Jawaan, yakni Rahman Budi Wijanarka. Selebihnya punya nama yang berjarak dengan dunia perwayangan. Wijanarka adalah nama tokoh dalam pewayangan Jawa, yang disisipkan dalam kisah Mahabharata versi pewayangan. Wijanarka merupakan putra Arjuna dan Dewi Ratri.■ Raihul Fadjri

Adv Banner

Komentar