Festival Kendeng Lestari Suarakan Perlawanan Terhadap Perusakan Lingkungan di Pegunungan Kendeng

Festival Kendeng Lestari menarasikan tentang lingkungan Pegunungan Kendeng yang harus terus dilestarikan agar terhindar dari proyek pabrik semen dan tambang batu kapur lewat karya seni rupa.

Sejarah & Budaya587 Dilihat

 

Salah satu karya Taring Padi. Foto: dialoguejakarta.com/ dokumentasi Taring Padi.

 

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Masih ingat aksi sembilan perempuan asal Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, menyemen kaki mereka di depan Istana Presiden pada April 2016? Kini perlawanan terhadap perusakan lingkungan ke Pegunungan Kendeng muncul lagi ketika Gunretno, Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng, diperiksa Polda Jawa Tengah atas tudingan menghalangi aktivitas pertambangan pada 4 Desember 2025 lalu.

Gunretno adalah tokoh Sedulur Sikep yang merupakan kelompok rakyat Pegunungan Kendeng yang memperjuangkan kawasan mereka bebas dari proyek penambangan dan pabrik semen.

Di tengah ketegangan inilah muncul kegiatan Festival Kendeng Lestari yang menampilkan pameran seni rupa berupa seni grafis, seni lukis, seni patung dan seni instalasi pada 16 – 19 Desember 2025 di Sonokeling, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. “Festival ini menarasikan tentang Kendeng yang harus terus dilestarikan agar terhindar dari proyek pabrik semen dan tambang batu kapur,” ujar Ningrum, salah seorang panitia festival, Jumat, 19 Desember 2025.

Menurut Ningrum, salah satu peserta pameran adalah kelompok perupa Taring Padi asal Yogyakarta. Kelompok yang dikenal sebagai kelompok perupa aktivis yang muncul pada masa Reformasi 1998 ini memajang karya banner di luar ruang.

Ada banner berisi citraan barisan bentuk figur petani yang dua diantaranya dengan kaki disemen yang mengingatkan aksi di depan Istana Presiden pada 2016 (Kendeng Lestari, Nyawiji Kanggo Ibu Bumi, 2023). Ada juga banner dalam ukuran lebih kecil berisi citraan perempuan petani yang mengenakan caping dengan tangan mengepal. Di bagian atas ada tulisan: Satu Bumi Tanpa Perusak Lingkungan. Di bagian bawah ada tulisan: Kendeng Squad.

Pada benner lain ada citraan tiga figur seperti sedang berbicara dengan latar belakang citraan pabrik semen. Ada figur yang mengatakan: “Pabrik semen menggila”. Ada pula figur yang merespon: “Sawahku! Gagal paham”.

Banner karya aktivis Taring Padi ini dipersembahkan pada komunitas Sedulur Sikep, dengan siapa Taring Padi belajar dan bekerja bersama lebih dari dua dekade. Banner ini juga ingin membagi hasil dari pembelajaran bersama ini.

Sedulur Sikep bermakna saudara yang bersikap, sikap yang berlandaskan ajaran Samin Surosentiko (1859-1914) yang mengutamakan kejujuran, kesederhanaan dan perlawanan tanpa kekerasan.

Mereka meyakini bahwa tanah dan air harus kita jaga dan rawat. Karena itu, Sedulur Sikep bergabung dengan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) untuk berjuang menolak pembangunan pabrik semen yang akan merusak keseimbangan alam di daerah mereka.■ Raihul Fadjri

Komentar