Karawang, dialoguejakarta.com – Sejarah merupakan subject matter yang menarik dan tak habis-habisnya untuk dieksplorasi lewat media seni rupa. Sejarah juga menyediakan berbagai narasi untuk digali. Inilah yang dilakukan Pupung Prayitno (1965) yang lahir dan menetap di Karawang, satu wilayah yang pada masa lalu merupakan daerah yang menjadi tarik menarik dalam kekuasaan Kerajaan Banten di Jawa Barat dan Kerajaan Mataram di Jawa Tengah. Sedang pada masa perjuangan kemerdekaan terjadi pembantaian ratusan penduduk Karawang oleh pasukan kolonial Belanda pada 1947 yang kemudian dijadikan sajak yang terkenal oleh Chairil Anwar dengan judul Karawang Bekasi.
Kini Pupung mengeksplorasi sejarah masa lalu Karawang lewat 30 karya lukis pada pameran tunggal bertajuk The Journey: Past and The Future di Show Room Mobil Honda Kumala, Karawang, Jawa Barat, 13 – 30 Desember 2025. “Tema pameran ini dihadirkan sebagai ruang perenungan atas keterhubungan masa lalu dan masa depan,” tulis Abdurahman Abro dalam teks kurasi pameran ini.
Dalam proses kreatifnya Pupung menekankan eksplorasi intuitif melalui gestur kuas dan pelapisan warna secara bertahap. Pupung mengeksplorasi komposisi warna dominan biru, coklat, dan hitam yang kontras. “Teknik yang digunakan mengutamakan layering, tekstur, dan kontras warna untuk membangun kedalaman visual, sehingga setiap karya menghadirkan ekspresi yang jujur, kuat, dan berkesan,” kata Abdurahman Abro.
Dengan tema ini Pupung menghadirkan suasana perang lewat barisan pasukan bersenjatakan tombak berada di tengah pertempuran antara pasukan yang betelanjang dada dan rambut dikucir dengan parang berlumuran darah di tangan saat berhadapan dengan pasukan yang mengenakan serban. Sementara di laut juga terjadi pertempuran di atas perahu (Utusan Mataram di Karawang, 2025).
Pada tahun 1632 M, Sultan Agung mengutus Wiraperbangsa dari Galuh dengan membawa 1000 prajurit dan keluarganya menuju Karawang. Tujuan pasukan yang dipimpin oleh Wiraperbangsa adalah untuk membebaskan Karawang dari pengaruh Banten.
“Wiraperbangsa dan prajuritnya berhasil melumpuhkan tentara Banten. Kemudian Pangeran Nagaragan sebagai pemimpin tentara Kerajaan Banten dipenggal kepalanya, sebagai bukti berhasil memenangkan pertempuran, dan dibawa ke Mataram,” ujar Pupung.
Relasi Kerajaan Mataram dengan Karawang juga digambarkan Pupung lewat adegan penangkapan utusan pertama Sultan Agung di Karawang, Surengrono, atau juga di Karawang dikenal dengan nama Aria Wirasaba, yang ditangkap oleh pasukan kolonial VOC dan dieksekusi (Surengrono vs VOC, 2024).
Tugas Aria Wirasaba di Karawang adalah menjaga kedaulatan Mataram di wilayah Barat dengan mengerahkan 1000 prajurit untuk membebaskan Karawang dari penjarahan Kerajaan Banten. Selain itu dia juga ditugaskan untuk membuka ladang pesawahan sebagai pusat logistik Mataram dalam rangka untuk menyerang Batavia. “Tapi dia dianggap gagal, karena tidak ada laporan ke Mataram,” ujar Pupung.
Pupung juga mengeksplorasi narasi lingkungan pada karya lukisnya. Karawang pernah dikenal sebagai kawasan lumbung padi, bahkan Kerajaan Mataram mengandalkan Karawang sebagai pemasok makanan untuk rencana penyerangannya ke Batavia. Tapi itu situasi lingkungan Karawang pada masa lalu. Kini Karawang sudah beralih rupa menjadi kawasan industri yang padat penduduk dan fasilitas umum (Aku dan Ladang yang Memérah, 2024).
Untuk menggambarkan perubahan lingkungan Karawang, Pupung juga melakukan apropriasi karya pelukis Amerika Serikat, Andrew Wyeth (Christiana World; Has Canged) yang menggambarkan lahan pertanian yang sudah mulai tergusur bangunan bertingkat. “Ini satire bahwa dunia Karawang sudah berubah. Di sekitar likungannya sudah berdiri gedung-gedung megah,” ujar Pupung.■ Raihul Fadjri
