
Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Generasi X (1961-1980) mestinya mengenal tokoh seni rupa Tino Sidin, yang saat itu populer sebagai pembawa acara Mari Menggambar di TVRI Yogyakarta dan kemudian diteruskan di TVRI Jakarta, ketika saat itu belum ada televisi swasta. Ucapannya yang khas dan populer saat itu ketika Tino Sidin menilai semua karya lukis anak-anak yang dia terima: “Ya, bagus!”
Untuk mengenang 100 tahun pria kelahiran Tebing Tinggi Sumatera Utara pada 25 November 1925 ini digelar pameran bertajuk Tribute To Tino Sidin di galeri Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta, 5 – 11 Desember 2025. Pameran ini sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Retrospeksi 100 tahun Tino Sidin. “Pameran Tribute To Tino Sidin menampilkan memorabilia Pak Tino Sidin yang merupakan Koleksi Museum Taman Tino Sidin,” ujar Panca Tarakuyati Sidin, anak perempuan Tino Sidin.
Pameran ini menampilkan 20 lukisan cat minyak, 20 sketsa hitam putih dan berwarna karya Tino Sidin dan juga karya lukis dan patung kawan seniman segenerasi dengan Tino Sidin yakni Sudarso, Nasyah Yamin, Bagong Kussudiardjo, Edhi Sunarso, Batara Lubis, Sapto Hudoyo, Fadjar Sidik, juga karya seniman generasi yang lebih muda yang pernah bersinggungan dengan hidup Tino Sidin.
Tino Sidin berharap agar anak Indonesia gemar menggambar. Oleh sebab itu Tino Sidin berusaha memberi pelajaran menggambar lewat tayangan di TVRI. “Dengan menggambar engkau berkreasi guna menunjang pembangunan negara kita, Indonesia tercinta,” ujar Tino Sidin sebagaima ditulis Hajar Pamadi dalam katalog pameran.
Ucapan Tino Sidin “Ya, Bagus” pada acara Mari Menggambar di TVRI diucapkannya dengan penuh semangat untuk setiap gambar kiriman anak-anak, demi membangun kepercayaan diri dan membangkitkan kreativitas mereka. Kalimat itu menjadi slogan khasnya yang ikonik, menegaskan bahwa setiap karya anak-anak itu berharga dan layak diapresiasi, bukan untuk dikritik.
Frasa “bagus” adalah singkatan dari “Belajarlah Anak-anak Gambar Menggambar Untuk Seni” (BAGUS), bukan sekadar pujian tanpa arti.
Riwayat Tino Sidin terjun dalam seni rupa diawali dengan belajar melukis secara otididak. Dia juga dibimbing pelukis S. Sudjojono di Sanggar SIM (Seniman Indonesia Muda, dan kuliah seni rupa di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Dedikasinya dalam pendidikan seni rupa dia wujudkan bersama pelukis Sun Ardi dengan mendirikan Pusat Latihan Lukis Anak-anak (PLLA) di Galeri Senisono, Yogyakarta.
Karya lukis Tino Sidin cenderung bercorak impresionis dengan menggunakan warna cerah objek yang dieksplorasi dengan tema anak, keluarga, lanskap sawah dan pantai.
Tino Sidin menggunakan warna-warna segar sebagai simbol anak-anak yang butuh siraman ide dan gagasan agar ke depan mampu berdikari. Ada lanskap di tepi pantai dalam komposisi warna dominan hijau dan biru (Nyiur di Pantai), ranting pohon dan dedaunan (Bunga Liar, 1969), sosok perempuan membawa sesaji dengan pepohonan di sekitarnya ( Perempuan Bali, 1990), ada juga permainan Reog Ponorogo (Bujang Ganong, 1992), atau sosok gajah dengan tubuh bagian atas penuh bentuk bunga (Patung Gajah dan Bunga, 1992.
Pameran ini merupakan memorabilia Tino Sidin sebagai guru gambar, seniman lukis maupun sebagai budayawan yang tidak tinggal diam di dalam studio, dan selalu mendekatkan diri dengan masyarakat.■ Raihul Fadjri