Perupa Iwan Yusuf Bangun Citraan Hyperrealist Monokromatik Pakai Jaring Pukat Harimau
Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Seorang pelukis bercorak hyperrealist dengan beragam polesan warna bermigrasi ke ranah karya seni rupa tiga dimensi dengan nuansa monokromatik. Inilah yang dilakukan Iwan Yusuf pada pameran bertajuk ‘Payau’ di ruang pamer Edsu House, Yogyakarta, 21 November 2025 – 1 Fabruari 2026.
Pada pameran ini Iwan Yusuf (Gorontalo,1982) menghadirkan 10 karya tiga dimensi yang dia bangun dari media dua dimensi berupa jaring yang biasa dipakai nelayan untuk menangkap ikan di laut. “Judul Payau merujuk pada wilayah percampuran air tawar dan air asin yang saling bersinggungan di kawasan pesisir laut,” ujar Iwan. Metafora ini diterjemahkan ke dalam cara Iwan memindahkan jaring dari lingkungan asalnya di Gorontalo ke dalam ruang kubus berwarna putih.
Pameran ini menandai fase baru dalam dua dekade perjalanan artistik Iwan, dengan menghadirkan eksplorasi terkininya menggunakan medium jaring pukat harimau bekas yang dia olah menjadi karya instalasi site-specific di dalam ruang galeri.
Di ruang galeri, medium tersebut mengalami pergeseran makna. Jaring pukat harimau bukan lagi material fungsional, melainkan struktur visual yang menggantung antara dua dimensi dan tiga dimensi.
Melalui proses yang dimulai dari gambar yang memakai bahan arang di atas kertas, lalu dirakit ulang ke dalam skala besar, Iwan mengejar ketegangan antara bidang datar dan ruang. Hasilnya karya tiga dimensi yang memunculkan ilusi visual. Dari kejauhan karyanya tampak datar dan menempel pada dinding, tetapi ketika didekati, bentuknya terasa meruang dan bergerak, menciptakan kesan ambigu antara gambar dan instalasi. Seperti rasa air payau itu sendiri, karya-karya ini seolah berada dalam posisi tidak sepenuhnya bentuk dua dimensi (lukisan), tapi juga tidak sepenuhnya objek tiga dimensi.
Misalnya, Iwan mengolah bentuk lingkaran yang terkesan benda besi padat yang mengambang melawan daya grafitasi di dalam ruang gelap (Dolahu, 2025). Pada karya lain Iwan membuat bentuk empat persegi dari tampak samping yang menghasilkan citraan bayangan di belakangnya (Bohu, 2025).
Iwan juga mengeksplorasi ilusi bentuk berupa citraan yang mengesankan bentuk monumen tugu dikurung bentuk jaring yang menjuntai ke bawah dan mengerucut ke atas (Laito, 2025).
Suasana gelap yang menggerus rasa takut muncul pada karya Iwan berupa bentuk terowongan berujung kegelapan (Hulungo, 2025).
Seperti rasa payau itu sendiri, karya-karya ini berada dalam posisi serba-atau, tidak sepenuhnya lukisan, tidak sepenuhnya objek.
Lewat karyanya ini Iwan menggambarkan hubungan manusia dengan laut sebagai ruang kenangan, mitos, dan refleksi ekologis. Karyanya mengajak penonton merenungkan kesadaran akan laut sebagai bagian penting dari identitas dan
kehidupan masyarakat pesisir. (Raihul Fadjri)






















Komentar