Perjuangan Aktivis Sosialis Dibedah Lewat Diskusi Buku Sosial-Demokrasi

DialogDaerah104 Dilihat

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Kisah perjuangan aktivis sosialisme-demokrat dibukukan lewat buku ‘Sosial-Demokrasi’ karya Imam Yudotomo. Buku ini akan dibincangkan dengan dua pembicara, Halim HD, pemikir kebudayaan, tinggal di Solo dan Osmar Tanjung, aktivis, tinggal di Jakarta. Diskusi akan digelar di Ruang Paripurna Gedung DPRD DIY, Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, Kamis, 4 Desember 2025, pukul 10 pagi.

Imam Yudotomo (1941 – 2015) dikenal sebagai aktivis sosialisme demokrat yang tak kenal lelah mengkampanyaken idiologi yang diyakininya sembari menepis salah paham banyak orang yang menuding sosialisme sama dengan komunisme.

“Buku Sosial Demokrasi ini merupakan kumpulan karangan karya Imam Yudotomo, yang menyajikan pikiran-pikiran sosialisme dan demokrasi di Indonesia,” ujar Ons Untoro, Koordinator Sastra Bulang Purnama, penyelenggara diskusi buku ini.

Menurut Ons, dalam melihat persoalan sosial dan politik di Indonesia, Imam Yudotomo selalu menggunakan perspektif sosialis. “Imam, sampai akhir hayatnya memilih sosialisme sebagai jalan hidupnya,” kata Ons.

Sosialisme merupakan jalan pilihan Imam Yudotomo dalam melakukan perjuangan. “Sejak masih muda, bahkan remaja, Mas Imam sudah mengambil pilihan itu. Mungkin karena bapaknya seorang sosialis, dan Mas Imam mengikuti jejak ayahnya,” ujar Abidin Fikri, anggota DPR yang mengenal sosok Imam Yudotomo.

Menurut Abidin, buku Sosial Demokrasi yang ditulis Imam menyampaikan perihal sosialisme, yang dia yakini sampai akhir hayatnya. Dalam pikirannya, sosialisme seperti tidak pernah hilang. “Nafas hidupnya adalah nafas seorang sosialis, sehingga setiap dia berbicara nafas sosialis selalu terhirup,” katanya.

Pada usia remaja Imam Yudotomo sudah bergabung dengan Gerakan Pemuda Sosialis di Bogor dan Bandung. Ketika mahasiswa bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMS), yang kemudian berubah menjadi Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos), baik di Bandung, Surabaya dan Yogyakarta, sebagai Sekretaris Hubungan Internasional (1960-1968). Imam Yudotomo pun menjadi bagian dari gerakan politik Partai Sosialis Indonesia di bawah Sutan Syahrir.

Setelah ditangkap dan dipenjara karena peristiwa Malari 15 Januari 1974, Imam memimpin Yayasan Taman Karya Bhakti (YTKB), NGO yang bergerak dibidang pengembangan alat-alat pendidikan di Yogyakarta.

Imam Yudotomo terus menghidupi pilihannya tidak hanya di Indonesia, juga aktif di jaringan sosialisme internasional dengan mengikuti Youth Exchange Program yang diselenggarakan oleh International Union of Socialist Youth (IUSY) di Austria selama satu tahun (1968-1969).

Pada tahun 1983 Imam diundang mengikuti Kongres Sosialis International (SI), yang diselenggarakan di Faro, Portugal. Ia juga ambil bagian dalam Socialist Educational International (SEI), sebuah organisasi pendidikan internasional kaum sosial demokrat yang berpusat di Brussel-Belgia, sebagai sekretaris regional untuk kawasan Asia selama dua periode (1986-1994).

Buku Sosial-Demokrasi setebal 383 halaman ini berisi lima bab tulisan Imam Yudotomo, yakni tentang Sejarah Sosialisme, Idiologi, Ekonomi Politik, Buruh dan Tani, dan Tokoh Sosialisme; dengan 45 judul tulisan. “Bung Karno dengan marhaenisme bisa dianggap sebagai usaha untuk meng-Indonesia-kan sosialisme. Dengan sangat cemerlang Bung Karno menyatakan pentingnya kaum tani diajak untuk ikut berjuang melawan kapitalisme,” tulis Imam Yudotomo pada tulisannya tentang sosialisme di Indonesia.

Menurut Ons Untoro, koorditaror diskusi, buku karya Imam Yudotomo, merupakan pikiran yang dipresentasikan untuk kepentingan pendidikan diberbagai kelompok masyarakat, tidak hanya di Yogya, dan di beberapa kota di Indonesia. “Buku ini penting untuk diterbitkan, setidaknya sebagai bentuk monumen pemikiran Imam Yudotomo,” ujar Ons Untoro.■Raihul Fadjri

Komentar