Yogyakarta – dialoguejakarta.com – Melukis dengan cat minyak atau cat akrilik sudah biasa. Pelukis Eddy Ruswanto melakukan gebrakan. Dia melukis dengan teknik kolase menggunakan bahan guntingan kertas majalah bekas. Setelah melukis wajah presiden ketujuh Joko Widodo dengan menggunakan kertas bekas pada pameran yang digagas kalangan perupa pendukung Jokowi pada pemilihan presiden 2019, kini pelukis dengan teknik kolase, Eddy Ruswanto, sedang menyiapkan lukisan kolase dengan kertas bekas berupa potret wajah Prabowo Subianto yang merupakan pesaing Jokowi pada pilpres 2019.
Menurut Eddy, lukisan kolase berupa potret Jokowi itu dulu dibeli oleh Staf Khusus Kepresidenan, Sukardi Rinakit. “Tapi hingga kini karyanya masih tersimpan di tempat saya. Mungkin gudang dan rumahnya sudah full karya lukis,” ujar Eddy, Kamis 24 Juli 2025.
Adapun potret wajah Presiden Prabowo yang kini lekat dengan jargon Merah Putih ini rencananya untuk dipajang pada pameran bersama di kampus Universitas Gadjah Mada pada Oktober 2025. “Mau saya buat dibagian atas wajah pak Prabowo berwarna merah, bagian bawah warna putih,” kata Eddy yang mengaku kurang suka dengan figur Prabowo. “Simbol merah adalah seperti rapot anak sekolah. Jika nilainya jelek ya ditulis dalam warna merah. Kita lihat saja nanti.”
Eddy Ruswanto dikenal sebagai pelukis kolase yang menggunakan kertas sebagai bahan untuk membuat citraan bentuk di atas kanvas. Berawal dari kejenuhannya melukis dengan cat, charcoal atau pinsil. Pria kelahiran Jakarta pada 1979 yang kini bermukim di Kebumen, Jawa Tengah, ini kemudian mencari referensi tentang media alternatif untuk berkarya secara berbeda. Lalu muncul gagasan berkarya dengan barang bekas (recycle) dengan menggunakan pelepah pisang.
Salah satu karya kolase dengan bahan pelepah pisang ini menjadikannya juara kedua lomba kerajinan yang digelar Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Yogyakarta pada 2006.
Pada tahun 2010 Eddy beralih dari bahan pelepah pisang untuk membuat lukisan dari bahan kertas majalah bekas, karena waktu itu pelukis yang menekuni seni kolase masih jarang muncul dalam peta seni rupa. “Lalu saya berinisiatip menjadikan kolase sebagai identitas diri,” ujar Eddy.
Karya kolasenya kemudian dia publikasikan di media sosial yang kemudian direspon seorang kolektor dari Jakarta. “Saya ingat betul sang kolektor mendukung karya kolase saya. Saya ditantang untuk membuatkan dia kolase bercorak realis dengan kesepakatan tak tertulis agar kolase yang dia pesan harus untuk dia, dan hanya dia yang punya. Sesuai kesepakatan, saya juga berjanji untuk tidak membuatkan kolase seperti yang dipesan kolektor itu,” katanya. Kolektor berminat pada karya lukis kolasenya karena mereka menilai lukisan kolase kertas unik. “Kolektor ingin punya lukisan kolase dari materi kertas karena mereka anggap karya lukis dengan cat sudah umum.”
Lukisan kolase kertas karya Eddy sama sekali tanpa pewarna berupa cat yang biasa dipakai oleh pelukis. “Murni warna asli yang saya ambil, dipilih, disortir, dipotong dan disobek dari kertas majalah bekas,” katanya. Dia memilih warna dari kertas berbagai majalah untuk warna kulit dan warna pakaian figur yang dia lukis.
Potongan kertas dari majalah bekas itu dia beli dari pengepul majalah bekas secara online. Biasanya dia membeli majalah bekas khusus pria dewasa FHM (For Him Magazine), juga majalah Popular dan Maxim, yang juga majalah khusus pria dewasa. Tapi dia juga menggunakan majalah interior bekas.
Dulu waktu masih tinggal di Yogyakarta, Eddy mencari majalah bekas di sebelah barat Kantor Pos kawasan Titik Nol Kilometer, atau di pasar buku dan majalah bekas yang dulu dikenal sebagai Shopping Centre. “Kalau sekarang karena tidak tinggal di Yogyakarta, saya harus beli online dan harus jeli memilih majalahnya,” ujarnya.
Secara teknis penggarapan karya lukis kolase sama halnya dengan melukis memakai cat, hanya mengganti media dan bahan saja. Langkah awal, kanvas dilumuri lem secara merata, lalu ditempeli kertas sehingga permukaan kanvas tertutup. Mininal tiga lapis tumpukan kertas sebagai dasar. Kedua, jika kanvas yang sudah tertutup rapat dengan kertas barulah bisa dibuat sketsa untuk visual utama.
Setelah sketsa untuk komposisi, perspektif dan proporsi dirasa sudah pas, barulah ditempeli kertas dengan mengikuti alur sketsa dan memilih warna yang sesuai untuk diaplikasikan dari contoh gambar atau foto. Setelah selesai kolase ditimpa lem kayu hingga kering, lalu divernis untuk finishingnya. “Karya kolase bisa diselesaikan dalam waktu satu sampai dua minggu,” ujar Eddy.
Karena basis Eddy seni lukis realis dan itu aliran seni yang paling mudah diterima, jadi dia membuat kolase yang tidak berat temanya. Sebagian besar karya kolase Eddy Ruswanto berupa potret wajah orang yang memesan. Dia menerima pesanan dari siapa saja, dan yang terbanyak pesanan dari satu perusahaan di Surabaya untuk souvenir relasinya. Ada juga yang memesan kolase bentuk kuda dan harimau. “Kalau saya sih bebas saja siap mengerjakan pesanan apapun temanya,” ujar Eddy.
Selain potret wajah, Eddy juga menggarap lukisan kolase dengan objek sepeda motor untuk stok (BSA Motorcycle, 2024). Satu karya sudah terjual pada pameran Art Jakarta pada tahun lalu, satu lukisan lagi juga sudah dibeli kolektor di Bekasi.
Kreativitas Eddy Ruswanto tak berhenti pada media dua dimensi. Saat Covid-9 melibas negeri ini, pada 2020 dia mulai mengeksplorasi media tiga dimensi dengan membuat karya patung dengan menggunakan sisa limbah kertas dari pembuatan karya lukis kolase. “Saya iseng saja untuk mengisi waktu sambil berexperimen limbah kolase yang masih bisa dipakai,” kata Eddy.
Ketika teknologi digital merambah industri media massa sehingga media berupa majalah dan koran terbit sudah tidak lagi menggunakan kertas, bagaimana nasib seni kolase Eddy Ruswanto yang menggunakan bahan kertas majalah? “Recycling art dengan menggunakan media alternatif dari bahan limbah tersedia dalam jumlah melimpah. Ada plastik, kain, kabel dan lain-lain, sehingga tak akan menghentikan eksplorasi seni dengan menggunakan limbah,” ujar Eddy.■Raihul Fadjri


















Komentar