Yogyakarta.dialoguejakarta.com – Sebanyak 14 pelukis yang bergabung dalam kelompok Seketika Project menggelar pameran bertajuk 9099 di Indie Art House, Yogyakarta, 21 Juni – 4 Juli 2025. Karya lukis mereka mencerminkan ekspresi seni Generasi Milenial, satu generasi yang lahir pada dekade 1990-an. Mereka yang juga dikenal dengan sebutan Generasi Y adalah generasi yang kreatif dan berorientasi pada ekspresi diri.
Generasi ini tumbuh dalam situasi saat mulai berkembang pesat dengan munculnya komputer pribadi, internet, perangkat seluler, dan video game. Tak heran ekspresi seni rupa meteka pada pameran ini muncul citraan bentuk figur yang mengesankan bentuk-bentuk dalam film animasi. “Ketertarikan pada kalibrasi hiburan adalah hal yang paling sederhana dari kemampuan manusia untuk menyerap informasi yang dapat dipengaruhi faktor usia,” ujar Naja Izzah, seorang penulis dalam pengantar pameran ini.
Pada karya lukis Liandha Bellamora, misalnya, ada sosok gadis dengan rambut tergerai dalam warna kuning dan merah di tengah ruang terbuka dengan sejumlah bentuk hewan yang biasa muncul dalam film animasi. Sementara di bagian latar muncul bentuk jejeran bukit dalam warna lembut hijau, biru, kuning, merah, dan pink (Againt’s The Current, 2025).
Pada karya lukis Anjastama HP karakter animasi tampil kuat lewat sosok anak perempuan sebagai objek utama dari tampak samping, berada di antara bentuk tumbuhan, kuda bersayap, kepala burung dan sosok anak perempuan berukuran kecil dengan topi berbentuk kepala kelinci. Objek-objek itu dipulas dengan komposisi warna dominan biru, coklat dan putih (Triump, 2025).
Pelukis Yula Setyowidi dengan karakter yang kuat mengeksplorasi figur perempuan berambut pendek dengan mata bulat seperti kaca dengan sosok hewan berekor memeluk lehernya dari belakang dalam komposisi warna hitam, putih, dan ungu (Fatimorgina#2, 2025). Atau karya lukis Andi Acho Mallaena yang kuat corak animasinya, tapi dengan teknik hiper realis (Neosapiens, A Post Modern Monkey, 2024).
Sementara karya pelukis lain dari generasi milenial ini cenderung menggunakan pendekatan seni rupa modern lewat karya lukis bercorak Pop Art, seperti karya lukis Ilham Karim berupa citraan sosok figur bak sedang meloncat di atas lapangan tenis dengan deretan bentuk bola tenis di bawahnya (Crushed Like a Bug In The Ground, 2025). Karya lukis ini dipoles dengan komposisi warna cerah sebagai mana kecenderungan ekspresi warna pelukis Generasi Milenial: merah, hijau, kuning, hitam dan putih.
Atau karya lukis Birdpeace berupa sosok pria mengenakan pakaian prajurit Keraton dengan posisi kedua telapak tangan merapat seperti gestur memberi hormat dengan latar bentuk-bentuk abstrak (Wirabraja, 2025). Karya ini dipulas dengan warna cerah monokromatik.
Sementara pelukis Akbar Warisqin mengeksplorasi bentuk abstrak yang mengesankan hamparan bentuk transparan dengan warna dominan ungu dan kuning (Breaking The Boundaries: Mindset Control #1, 2024).
Dengan corak yang khas ekspresi rupa Generasi Milenial ini ikut memberi warna dalam perjalanan seni rupa kontemporer saat ini.■ Raihul Fadjri


















Komentar