Ketika Fotografi Berkelindan dengan Seni Rupa Kontemporer

Sejarah & Budaya1068 Dilihat

Yogyakarta.dialoguejakarta.com – Ruang pamer Bentara Budaya Yogyakarta bak sedang memamerkan karya seni rupa kontemporer pada pameran fotografi bertajuk Ruang/Waktu, 13 – 22 Juni 2025. Ada karya instalasi berupa hamparan kain panjang, ada karya site specific instalation, selain sederet karya fotografi yang tak biasa.

Pada pameran ini karya fotografi tidak hanya berupa hasil jepretan kamera foto berupa citraan dua dimensional sebagaimana yang dikenal selama ini, tapi kini menjadi lebih beragam perkembangannya. Ruang pameran tidak lagi diisi dengan karya fotografi berupa cetak karya dua dimensi di atas media kertas yang digantung di dinding, tapi berubah menjadi ruang pameran karya seni rupa kontemporer.

Empat seniman fotografi Ajie Wartono, Arief Sukardono, Layung Buworo, dan Sonia Prabowo mengeksplorasi hasil jepretan kamera mereka ke dalam karya dua dimensi bahkan karya tiga dimensi. Ada karya Layung Buworo (1962) berupa karya foto berwarna yang menggambarkan dirinya sebagai penjual makanan di warung pikulan seolah sedang melayani pembeli.

Layung memindahkan bentuk karya foto itu ke dalam karya bercorak site specific instalation berbentuk warung pikulan untuk menjual makanan dan minuman yang di Yogyakarta dikenal dengan sebutan warung angkringan dengan menu khas sego kucing (Menandai Masa Kini dengan Mengingat Masa Lalu, 2025). “Saya menggunakan materi bahan dari plastik sebagai metafora penggunaan bahan plastik yang berlebihan kini menjadi ancaman bagi lingkungan,” ujar Layung.

Ada pula karya Sonia Prabowo (1971) berupa hamparan kain tergantung meliuk-liuk yang di atasnya tercetak citraan berbagai bentuk tangan seperti dalam posisi berdoa dalam citraan warna monokrom hitam putih (Empat Elemen Alam dan Manusia, 2025). Bagi Sonia, manusia menangkap energi alam melalui perilaku empat elemen alam, yakni air, tanah, api dan angin. “Tanpa adanya keseimbangan diantara empat unsur itu dunia akan dipenuhi kekacauan,” ujar Sonia.

Memori masa lalu dieksplorasi Ajie Wartono (1969) dengan memotret sejumlah benda yang ada di dalam rumahnya sebagai cuplikan ingatan dan kenangan dalam citraan hitam putih untuk menyusuri masa silam. Ada potret jendela rumah, perangkat pengukur meteran listrik, kamera foto merek Canon tergantung di dinding, tape recorder lengkap dengan kaset di dalamnya dan berbagai benda lain di dalam rumah yang mengesankan masa lalu.

Bagi Ajie Wartono, rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal, tapi juga ruang di mana kepribadian dan cara berfikir terbentuk lewat interaksi, pengalaman terhadap ruang, serta benda dan penghuni yang ada di dalamnya. “Rumah adalah ruang yang dihidupi, bukan sekadar ruang tempat fisik,” ujar Ajie Wartono.

Adapun Arief Sukardono (1964) mengeksplorasi ruang terbuka dengan menghadapkan dua hal yang bertolak belakang. Dia menggabungkan citraan foto sosok petani sedang berdiri di atas hamparan sawah dengan latar belakang gedung tinggi menjulang, atau sosok tiga perempuan sedang memegang serumpun padi dengan latar belakang hamparan sawah yang menguning seolah menarasikan terancamnya lahan pertanian dari meluasnya pembangunan gedung moderen (Gemah Ripah Loh Jinawi, 2025).

Arief membuat karyanya dengan teknik kolase dari cetakan foto yang dipotong, kemudian ditempel sesuai komposisi, memakai karton sebagai penyangga untuk memberi jarak antara satu lapisan dengan lapisan lain untuk menambah citraan dimensi. “Saya punya kenangan masa lalu saat berjalan melewati pedesaan dengan hamparan sawah, petani sedang membajak sawah, menanam padi, dan memanen hasilnya. Bak gambar mooi indie,” katanya.

Ketika saat ini setiap orang menjadi fotografer dengan perangkat handphone, pameran ini bukan semata-mata menyajikan karya fotografi yang memiliki gagasan tertentu. “Melainkan juga ikhtiar bersama membicarakan gagasan yang lebih besar ihwal fotografi sebagai medium,” ujar Budiono Dharmawan, kurator pameran ini.■ Raihul Fadjri

Adv Banner

Komentar